Menikah adalah peristiwa fitrah, fiqhiyah, dakwah, tarbiyah, sosial
dan budaya. Peristiwa fitrah, sebab pernikahan adalah salah satu sarana
mengekspresikan sifat-sifat dasar kemanusiaan. Fitrah setiap manusia
adalah punya kecenderungan terhadap lawan jenis, dan Allah Ta’ala telah
menciptakan rasa keindahan tersebut dalam hati setiap laki-laki dan
perempuan.
Persitiwa fiqhiyah, artinya pernikahan memiliki sejumlah aturan fikih
yang jelas. Islam adalah satu-satunya agama di dunia ini yang memiliki
aturan-aturan yang detail tentang keluarga, sejak dari proses
pembentukannya, huingga setelah terbentuknya keluarga sampai jalan
keluar dari permasalahan. Bukan hanya pernikahannya yang diatur, akan
tetapi perceraian juga mendapatkan aturan yang rinci dan jelas.
Persitiwa dakwah, artinya dengan pernikahan telah membuat pengkabaran
tentang jati diri Islam kepada masyarakat. Sejak dari proses pemilihan
jodoh, sampai kepada akad nikah, walimah dan akhirnya kehidupan
keseharian dalam keluarga. Aplikasi nilai-nilai Islam dalam prosesi
pernikahan ini telah memberikan sentuhan dakwah secara langsung kepada
masyarakat.
Pernikahan adalah peristiwa tarbiyah, bahwa dengan melaksanakan
pernikahan akan menguatkan sisi-sisi kebaikan individual dari laki-laki
dan perempuan yang bertemu di pelaminan tersebut. Proses tarbiyah
Islamiyah (permbinaan Islami) pada kedua mempelai akan lenbih bisa
ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya setelah menikah.
Nikah juga peristiwa sosial, artinya dengan pernikahan
terhubungkanlah dua keluarga besar dari pihak laki-laki dan perempuan.
Semula mereka adalah pihak yang asing, belum saling mengenal, bahkan
mungkin terpisahkan oleh jarak yang jauh. Dengan pernikahan tersebut,
bukan saja bermakna mempertemukan dua orang –lelaki dan perempuan– dalam
pelaminan, akan tetapi telah mempertemukan dua keluarga besar dalam
ikatan persaudaraan dan kekeluargaan.
Nikah juga peristiwa budaya, artinya dengan pernikahan terbaurkanlah
dua latar budaya yang tak mesti sama dari kedua belah pihak. Pernikahan
telah mempertemukan dua kebudayaan yang tidak mesti sama. Dua tradisi
dan dua adat yang berbeda. Dengan pernikahan terbentuklah sebuah
peradaban !
Dengan demikian proses pernikahan berarti mempertemukan banyak kepentingan, dan bukan mempertentangkan kepentingan-kepentingan tersebut.
Jika menggunakan pendekatan mempertentangkan kepentingan, akan semakin
banyak kepentingan yang tidak terdapatkan, sebaliknya jika mencoba
mempertemukan kepentingan semaksimal mungkin kepentingan bisa
terakomodir.
Menikah di Jalan Dakwah
Pernikahan akan bernilai dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan
tuntunan Islam di satu sisi, dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah
dalam setiap langkahnya, pada sisi yang lain. Dalam memilih jodoh,
dipikirkan kriteria pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah.
Dalam menentukan siapa calon jodoh tersebut, dipertimbangkan pula
kemaslahatan secara lebih luas. Selain kriteria umum sebagaimana
tuntunan fikih Islam, pertimbangan lainnya adalah : apakah pemilihan
jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah,
ataukah sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya sendiri?
Mari saya beri contoh berikut. Di antara sekian banyak wanita
muslimah yang telah memasuki usia siap menikah, mereka berbeda-beda
jumlah bilangan usianya yang oleh karena itu berbeda pula tingkat
kemendesakan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai 35
tahun, sebagian yang lain antara 30 hingga 35 tahun, sebagian berusia 25
hingga 30, dan yang lainnya di bawah 25 tahun. Mereka semua ini siap
menikah, siap menjalankan fungsi dan peran sebagai isteri dan ibu di
rumah tangga.
Anda adalah laki-laki muslim yang telah berniat melaksanakan
pernikahan. Usia anda 25 tahun. Anda dihadapkan pada realitas bahwa
wanita muslimah yang sesuai kriteria fikih Islam untuk anda nikahi ada
sekian banyak jumlahnya. Maka siapakah yang lebih anda pilih, dan dengan
pertimbangan apa anda memilih dia sebagai calon isteri anda ?
Ternyata anda memilih si A, karena ia memenuhi kriteria kebaikan
agama, cantik, menarik, pandai dan usia masih muda, 20 tahun atau bahkan
kurang dari itu. Apakah pilihan anda ini salah? Demi Allah, pilihan
anda ini tidak salah ! Anda telah memilih calon isteri dengan benar
karena berdasarkan kriteria kebaikan agama; dan memenuhi sunnah
kenabian. Bukankah Rasulullah saw bertanya kepada Jabir ra :
“Mengapa tidak (menikah) dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu?” (riwayat Bukhari dan Muslim).
Dan inilah jawaban dakwah seorang Jabir ra, “Wahai Rasulullah, saya
memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau
membawa yang keras juga kepada mereka. Janda ini saya harapkan mampu
menyelesaikan persoalan tersebut”, kata Jabir. “Benar katamu,” jawab
Nabi saw.
Jabir tidak hanya berpikir untuk kesenangan dirinya sendiri. Ia bisa
memilih seorang gadis perawan yang cantik dan muda belia. Namun ia
memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. Kemaslahatan menikahi janda
tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir, dibandingkan dengan apabila
menikahi gadis perawan.
Nah, apabila semua laki-laki muslim berpikiran dan menentukan calon
isterinya harus memiliki kecantikan ideal, berkulit putih, usia 5 tahun
lebih muda dari dirinya, maka siapakah yang akan datang melamar para
wanita muslimah yang usianya di atas 25 tahun, atau di atas 30 tahun,
atau bahkan di atas 35 tahun ?
Siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang dari segi
fisik tidak cukup alasan untuk dikatakan sebagai cantik menurut ukuran
umum ? Mereka, wanita tadi, adalah para muslimah yang melaksanakan
ketaatan, mereka adalah wanita shalihah, menjaga kehormatan diri, bahkan
mereka aktif terlibat dalam berbagai kegiatan dakwah dan sosial.
Menurut anda, siapakah yang harus menikahi mereka ?
Ah, mengapa pertanyaannya “harus” ? Dan mengapa pertanyaan ini
dibebankan hanya kepada seseorang ? Kita bisa saja mengabaikan dan
melupakan realitas itu. Jodoh di tangan Allah, kita tidak memiliki hak
menentukan segala sesuatu, biarlah Allah memberikan keputusan agungNya.
Bukan, bukan dalam konteks itu saya berbicara. Kita memang bisa
melupakan mereka, dan tidak peduli dengan orang lain, tapi bukankah
Islam tidak menghendaki kita berperilaku demikian?
Kendatipun Nabi saw menganjurkan Jabir agar menikah dengan gadis,
kita juga mengetahui bahwa hampir seluruh isteri Rasulullah saw adalah
janda ! Kendatipun Nabi saw menyarankan agar Jabir beristeri gadis,
pada kenyataannya Jabir telah menikahi janda !
Demikian pula permintaan mahar Ummu Sulaim terhadap laki-laki yang
datang melamarnya, Abu Thalhah. Mahar keislaman Abu Thalhah menyebabkan
Ummu Sulaim menerima pinangannya. Inilah pilihan dakwah. Inilah
pernikahan barakah, membawa maslahat bagi dakwah.
Sebagaimana pula pikiran yang terbersit di benak Sa’ad bin Rabi’ Al
Anshari, saat ia menerima saudaranya seiman, Abdurrahman bin Auf, “Saya
memiliki dua isteri sedangkan engkau tidak memiliki isteri. Pilihlah
seorang di antara mereka yang engkau suka, sebutkan mana yang engkau
pilih, akan saya ceraikan dia untuk engkau nilkahi. Kalau iddahnya sudah
selesai, maka nikahilah dia” (riwayat Bukhari).
Ia tidak memiliki maksud apapun kecuali memikirkan kondisi saudaranya
seiman yang belum memiliki isteri. Keinginan berbuat baiknya itulah
yang sampai memunculkan ide aneh tersebut. Akan tetapi sebagaimana kita
ketahui, Abdurrahman bin Auf menolak tawaran itu, dan ia sebagai orang
baru di Madinah hanya ingin ditunjukkan jalan ke pasar.
Ini hanya satu contoh saja, bahwa dalam konteks pernikahan, hendaknya
dikaitkan dengan proyek besar dakwah Islam. Jika kecantikan gadis
harapan anda bernilai 100 poin, tidakkah anda bersedia menurunkan 20
atau 30 poin untuk bisa mendapatkan kebaikan dari segi yang lain ?
Ketika pilihan itu membawa maslahat bagi dakwah, mengapa tidak ditempuh ?
Jika gadis harapan anda berusia 20 tahun, tidakkah anda bersedia
sedikit memberikan toleransi dengan melihat kepada wanita yang lebih
mendesak untuk segera menikah dikarenakan desakan usia ? Jika anda
adalah seorang wanita muda usia, dan ditanya –dalam konteks pernikahan–
oleh seorang laki-laki yang sesuai kriteria harapan anda, mampukah anda
mengatakan kepada dia, “Saya memang telah siap menikah, akan tetapi si
B, sahabat saya, lebih mendesak untuk segera menikah”.
Atau kita telah bersepakat untuk tidak mau melihat realitas itu,
karena bukanlah tanggung jawab kita ? Ini urusan masing-masing.
Keberuntungan dan ketidakberuntungan adalah soal takdir yang tak berada
di tangan kita. Masyaallah, seribu dalil bisa kita gunakan untuk
mengabsahkan pikiran individualistik kita. Akan tetapi hendaknya kita
ingat pesan kenabian berikut :
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang dan
kelembutan hati mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota
tubuh menderita sakit, terasakanlah sakit tersebut di seluruh tubuh
hingga tidak bisa tidur dan panas” (riwayat Bukhari dan Muslim).
Bisa jadi kebahagiaan pernikahan kita telah menyakitkan dan
mengiris-iris hati beberapa orang lain. Setiap saat mereka mendapatkan
undangan pernikahan, harus membaca dan menghadiri dengan perasaan yang
sedih, karena jodoh tak kunjung datang, sementara usia terus bertambah,
dan kepercayaan diri semakin berkurang.
Di sinilah perlunya kita berpikir tentang kemaslahatan dakwah dalam proses pernikahan muslim.
Bagaimana Menentukan Calon?
Menentukan pilihan pasangan hidup bukan peristiwa yang dampaknya
hanya sesaat, melainkan memiliki dampak luas dan panjang sampai
seumur-umur hidup, bahkan sampai urusan akhirat kita. Oleh karena itu
amat disayangkan apabila memilih calon suami atau isteri hanya
semata-mata berlandaskan selera dan kesenangan pribadi, tanpa
mempertimbangkan aspek-aspek lain yang lebih luas kemanfaatan dan
jangkauannya. Bisa jadi ada pertimbangan tertentu yang anda tidak
mengetahui sebelumnya, dan baru diketahui setelah anda bermusyawarah
dengan orang-orang shalih di sekitar anda.
Bisa jadi semula wawasan pemikiran anda tidak terlalu luas dalam
memilih calon pasangan hidup, maka dengan melakukan musyawarah dengan
orang-orang yang amanah dan bisa dipercaya, anda akan mendapatkan
keluasan pemikiran dan pandangan. Bahkan mungkin anda merasa diri telah
menemukan pilihan yang paling tepat menurut ukuran anda, akan tetapi
ternyata setelah anda musyawarahkan ternyata ada hal-hal yang menjadi
catatan dan ketidaktepatan pilihan.
Menentukan pilihan suami atau isteri harus dilakukan dengan sepenuh
kesadaran dan penerimaan utuh, tanpa keterpaksaan. Sebab pernikahan
harus diniatkan untuk selamanya, tak boleh untuk jangka waktu sementara,
dengan niatan menceraikan kalau ternyata dianggap tidak cocok. Menerima
calon suami atau calon isteri dengan sepenuh hati adalah hak penuh
masing-masing pihak. Tak ada seorangpun yang berhak memaksakan
terjadinya pernikahan pada diri seseorang. Laki-laki dan perempuan
berada dalam posisi merdeka pada konteks penentuan jodoh.
Syari’at Islam Berorientasi kepada Kemudahan
Jika ditinjau dari seluruh sisinya, syari’at Islam berprinsip
menghilangkan kesulitan dengan mengambil kemudahan dalam setiap pilihan.
Allah Ta’ala telah berfirman:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Dia tidak menghendaki kesulitan bagi kamu” (Al Baqarah: 185).
“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (Al Haj: 78).
Nabi saw memberikan ketetapan yang amat kuat dalam melihat kebaikan agama, sebagaimana tercermin dalam sabda beliau :
“Sebaik-baik (urusan) agamamu ialah yang termudah” (riwayat Thabrani).
“Sesungguhnya agama itu mudah, dan tiada seseorang yang mencoba
mempersukar dalam agama, melainkan ia akan kalah. Oleh karena itu
tepatlah, dekat-dekatlah dan bukalah harapan, pergunakanlah waktu pagi
dan sore dan sedikit di waktu malam” (riwayat Bukhari).
Diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah saw telah bersabda dengan mengulang hingga tiga kali kalimat ini:
“Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan dalam agama” (riwayat Muslim).
Sangat terasa orientasi Islam yang menghendaki kemudahan dalam
berbagai urusan. Bahkan tatkala beliau saw dihadapkan pada
pilihan-pilihan, maka amat tegas apa yang beliau tunjukkan kepada kita
lewat perkataan A’isyah ra berikut:
“Tidaklah Rasulullah saw dihadapkan pada pilihan antara dua hal,
kecuali beliau mengambil yang lebih mudah, asalkan bukan dosa” (riwayat
Bukhari dan Muslim).
Kita coba melihat betapa Islam menghendaki kemudahan dalam proses
pernikahan. Proses pemilihan jodoh dibuat sedemikian rupa oleh Islam
sehingga memudahkan bagi laki-laki maupun perempuan untuk melakukannya.
Mereka boleh memilih sendiri calon pasangan hidupnya, atau dicarikan
orang tua, kerabat, dan orang-orang shalih, atau dicarikan oleh
pemimpin. Wanita boleh memilih laki-laki untuk menjadi calon suami,
demikian pula laki-laki boleh memilih perempuan untuk menjadi calon
isterinya.
Dalam peminangan, boleh dilakukan sendiri oleh pihak laki-laki, boleh
pula mewakilkan kepada orang yang dipercaya. Wanita juga boleh meminang
laki-laki untuk dirinya sendiri, atau untuk wanita lainnya. Untuk janda
bahkan boleh dilakukan hanya dengan sindiran, dan boleh dipinang
langsung kepada diri si janda.
Dalam urusan mahar, Islam tidak mempersulitnya. Bagi yang memiliki
harta banyak, ia boleh memberikan mahar sesuai kesanggupannya, akan
tetapi Islam menghendaki kemudahan di dalam pemberian mahar:
“Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah” (riwayat Al Hakim).
Dalam melaksanakan akad nikah, tidak dituntut hal-hal yang
merepotkan. Tidak dituntut kemewahan atau keramaian tertentu. Keberadaan
wali dari pihak perempuan dan dua orang saksi telah memenuhi
persyaratan dilaksanakannya pernikahan:
“Tidak ada nikah kecuali dengan (dihadiri) wali dan dua orang saksi yang adil” (riwayat Baihaqi).
Dalam melaksanakan walimah, tidak mesti dengan upacara dan resepsi
yang besar dan mewah. Seandainya hanya memiliki seekor kambing, cukuplah
itu untuk melaksanakan walimah:
“Adakanlah walimah, meskipun hanya dengan (menyembelih) seekor kambing” (riwayat Bukhari dan Muslim).
Bahkan seandainya tidak memiliki seekor kambing, walimah tetap
diadakan dengan hidangan apapun yang dimiliki, seperti ketika Nabi saw
melaksanakan walimah dalam pernikahan beliau dengan Shafiyah. Oleh
karena itulah dalam masalah pernikahan ini, A’isyah menjelaskan:
“Sesungguhnya di antara keberkahan wanita ialah kemudahan peminangannya dan kemudahan maharnya” (riwayat Ahmad).
Uqbah bin Amir ra menyebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah” (riwayat Abu Dawud).
Dengan kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh Islam ini, diharapkan
setiap orang bisa melaksanakan syari’at dalam pernikahan tanpa ada
kesulitan. Tidaklah Islam datang membawa misi untuk memberatkan manusia,
atau membuat kesulitan-kesulitan. Yang diinginkan hanyalah perbaikan di
seluruh sisi kehidupan, yang dengan aturan ini kebaikan hidup akan
terjaga.
Orang tua tidak boleh mempersulit anak laki-laki maupun perempuan
untuk melaksanakan pernikahan Islami. Negara tidak diperkenankan membuat
aturan yang menyulitkan terjadinya pernikahan. Organisasi atau jama’ah
tidak diberi hak untuk membuat aturan-aturan yang merepotkan dan
menyulitkan para anggota dalam melaksanakan pernikahan syar’i. Yang
harus mereka lakukan adalah memberikan vasilitas kemudahan dalam
mengururs pernikahan.
Hal inilah yang sesuai dengan ketentuan syari’at Islam. Mempersulit
urusan, termasuk pernikahan, bukanlah watak dasar syari’at Islam. Wallahu a’lam.
Senin, 05 Agustus 2013
Minggu, 30 Juni 2013
Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah – Fathi Yakan
Bergugurannya
orang-orang yang memperjuangkan dakwah telah menjadi masalah yang
mewarnai perjalanan suatu gerakan dakwah Islam dimanapun dan kapanpun
gerakan tersebut eksis. Fenomena tasaquth (berguguran) dan insilakh (melepaskan
diri dari dakwah) sangat bisa menggerogoti setiap muslim yang bergabung
dalam gerakan dakwah Islam apapun; dakwah di bidang politik, sosial,
akademik, masyarakat, maupun keprofesian.
Bergugurannya seseorang di jalan dakwah bermakna pengunduran dirinya dari kancah perjuangan Islam, baik dengan perkataan atau mungkin cukup dengan sikapnya yang semakin menjauh dari dakwah. Hilangnya semangat juang, kaburnya niatan ikhlas, ketidakdisiplinan, berkurangnya porsi waktu untuk mengurus dakwah, meremehkan berbagai fadhilah atau keutamaan dakwah, serta mengabaikan ketetapan syari’at merupakan indikasi seseorang tergerogoti ‘virus’ tasaquth ini. Bukan berarti ia tidak mengerti Islam atau dakwah, bahkan mungkin ia sangat mengerti Islam, dakwah, dan syari’at, dan pada masa sebelumnya ia termasuk dalam orang-orang yang sangat bersemangat mengobarkan api perjuangan dakwah. Tetapi tasaquth yang menggerogoti dirinya disebabkan ketidak-kuatan jiwanya dalam menanggung sengitnya perjuangan dakwah yang panjang nan melelahkan serta beragam variasi bentuk fitnah atau ujian yang dia alami di setiap perubahan waktu dan kondisi.
Di satu sisi, memang Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan dakwah sebagai kewajiban syar’i dan memiliki tabi’atnya sendiri. Jalan dakwah adalah jalan ujian, dalam rangka menguji tingkat keimanan seorang Muslim. Inilah inti dari segala bentuk tabi’at jalan dakwah. Memang, kemenangan dan tegaknya Islam merupakan tujuan konkret dakwah. Namun Allah ‘Azza wa Jalla tidak pernah memaksa para pejuang-Nya untuk bersegera mewujudkan hal ini, karena kemenangan hanya datang dari sisi-Nya. Justru dalam berbagai keterangan dalam Al-Qur’an, Allah seringkali mewasiatkan pada hamba-Nya yang berjuang untuk tetap pada rambu-rambu yang digariskan syari’at, bersabar dalam menghadapi fitnah, ikhlas demi kehidupan akhirat, mencintai bentuk-bentuk pengorbanan, dan berhati-hati dalam menghadapi gejala tasaquth.
Ini menandakan bahwa fenomena bergugurannya orang-orang Muslim dari jalan dakwah-ujian ini telah ada akan selalu ada. Rasulullah saw. bersabda, “Bagaimana kalian, jika wanita-wanita telah bejat, para pemuda berbuat fasik dan kamu meninggalkan jihad?” Para sahabat bertanya, “Apakah hal demikian bakal terjadi wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Benar, dan demi yang diriku dalam genggaman-Nya, lebih dahsyat dari itu pun bakal terjadi. Bagaimana kalian jika kalian tidak memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar?” Para sahabat bertanya, “Apakah hal itu bakal terjadi wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Benar, dan demi yang diriku berada dalam genggaman-Nya, lebih hebat dari itupun bakal terjadi.” Mereka bertanya, “Apakah yang lebih hebat itu?” Nabi menjawab, “Bagaimana jika kalian memandang yang ma’ruf sebagai yang munkar dan memandang yang munkar sebagai yang ma’ruf.” Para sahabat bertanya, “Apakah hal demikia bakal terjadi?” Nabi menjawab, “Benar, dan demi yang diriku dalam genggaman-Nya, lebih dahsyat dari itu pun bakal terjadi. Bagaiamana jika kalian memerintahkan yang munkar dan melarang yang ma’ruf?” Para sahabat bertanya, “Apakah demikian bakal terjadi?” Nabi menjawab, “Benar, lebih hebat dari itu pun bakal terjadi. Allah swt. berfirman dalam hadits Qudsi, ‘Demi Diriku, Aku bersumpah akan kutimpakan kepada mereka fitnah di mana orang-orang bijak menjadi kebingungan.’” (Abu Ya’la)
Di sisi lain, keniscayaan terjadinya fenomena tasaquth ini sama sekali tidak boleh membuat kita menganggapnya sebagai sebuah kewajaran. Bahkan kita terus dituntut untuk serius berusaha meminimalisir terjadinya tasaquth ini dengan segala upaya demi menyelamatkan dan menjaga keberkahan gerakan dakwah yang kita perjuangkan.
Dalam kajiannya, Fathi Yakan menjelaskan analisis tentang fenomena tasaquth ini disertai penyebab-penyebab terjadinya. Harapannya, dengan mengetahui penyebab-penyebab tasaquth, setiap Muslim yang memperjuangkan dakwah dapat lebih mawas diri dalam amal-amalnya.
Mukadimah
Perlu diingat bahwa fenomena berjatuhan ini banyak terjadi dan menimpa pada barisan terdepan. Yaitu, para pendiri dan generasi awal pergerakan, meski para penerusnya juga tidak terbebas dari fenomena tersebut. Fenomena berguguran ini telah, dan akan selalu menorehkan keburukan dalam kancah amal Islami. Berikut penulis sebutkan beberapa dampak buruknya.
Bagian Pertama: Fenomena Berjatuhan di Masa Kenabian
Fenomena berjatuhan di jalan dakwah pada masa kenabian tidak tampak jelas seperti yang terjadi pada zaman modern sekarang ini. Kebanyakan yang terjadi pada masa itu adalah terjatuhnya beberapa pribadi ke dalam kekeliruan, meski sebagiannya merupakan kesalahan besar. Hal ini disebabkan tabi’at amal pada masa itu membawa manusia pada salah satu dari dua pilihan, dan tidak ada pilihan yang ketiga. Yakni, memilih hidup secara Islami atau jahiliyah. Hal ini menyebabkan, kaum muslimin pada masa itu tak berani keluar dari barisan Islam, karena takut pada sanksi kemurtadan.
Fenomena Pertama: Yang Tertinggal dari Perang Tabuk
Perang Tabuk adalah perang yang disiapkan oleh Rasulullah saw. secara terang-terangan dalam rangka menghadang kaum Romawi dan Ghassan di utara yang diisukan bahwa mereka menyiapkan segelar pasukan yang besar. Perang ini amat penting, namun saat itu sedang terjadi musim kemarau panjang dan buah-buahan sedang masak. Karena itu, peperangan ini Allah jadikan sebagai pelajaran berat bagi kaum mu’min sekaligus mengeliminasi kaum munafik, sebagaimana yang diterangkan dalam beberapa ayat surat At-Taubah.
Sebanyak tiga puluh ribu prajurit Muslim berangkat, meninggalkan kaum muslim yang secara syar’i diperbolehkan untuk tidak mengikuti peperangan. Namun, di antara mereka ada segelintir orang munafik yang mencari-cari alasan untuk tidak mengikuti peperangan. Bukan berarti mereka tidak mampu, namun hati mereka menjadi kecut dalam menghadapi perang pada masa itu.
Tatkala Rasulullah saw. kembali ke Madinah, orang-orang yang tidak mengikuti peperangan mengemukakan alasan-alasan mereka. Namun, di antara mereka ada tiga orang yang dalam hatinya masih tertanam keimanan yang kuat. Mereka mengakui kelalaiannya di hadapan Rasul, dan mengatakan bahwa tidak ada halangan berarti untuk mengikuti peperangan. Berdasarkan wahyu yang diterima, Rasulullah saw. memerintahkan untuk mengisolir mereka (tidak mengajak bicara sedikitpun). Mereka adalah Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah. QS At-Taubah : 95-96, 117-119
Fenomena Kedua: Kisah Ka’ab bin Malik
Ka’ab bin Malik adalah salah satu dari tiga orang yang di-iqob oleh Rasul, dan kisahnya amat terkenal. Ka’ab dan ketiga sahabat yang lain diisolir hingga lima puluh hari setelah Allah menurunkan ayat yang menerangkan penerimaan taubat mereka di sisi Allah.
Fenomena Ketiga: Kisah Hathib Abi Balta’ah
Hathib bin Abi Balta’ah dapat dikatakan melakukan sesuatu yang dewasa ini dianggap sebagai pembocoran rahasia negara dan pengkhianatan besar, sehingga memunculkan sikap anti pati dari massa dan sikap pemaaf dari kepemimpinan.
Saat Rasulullah saw. merencanakan pemberangkatan segelar pasukan muslim menuju Makkah, beliau berusaha menjaga agar orang-orang Makkah tidak tahu menau mengenai pemberangkatan ini, dengan tujuan mereka tidak sempat mengadakan persiapan sedikitpun untuk melawan, sehingga seluruh kondisi sepenuhnya dikuasai kaum Muslimin. Namun, secara sembunyi-sembunyi Hathib bin Abi Balta’ah mengirimkan surat untuk orang-orang Makkah tentang pemberangkatan ini, dengan perantara seorang wanita. Namun, kabar ini dapat diketahui Rasulullah saw. dan akhirnya terbongkar. Para sahabat sangat geram, namun Rasulullah saw. memaafkan tingkah Hathib ini sebagai penghormatan dirinya sebagai pejuang Badar. Berkenaan dengan peristiwa ini, turun QS Al-Mumtahanah : 1-4.
Fenomena Keempat: Masjid Dhiror
Kaum munafik pada zaman Rasulullah saw. selalu mencari-cari celah untuk menggoyahkan kekuatan kaum Muslimin dari dalam. Karena itu, mereka mendirikan Masjid Dhiror dengan dalih sebagai tempat ibadah dan menyelesaikan persoalan sosial ummat. Mereka meminta Rasulullah saw. untuk shalat di masjid mereka, sepulang dari perang Tabuk. Namun, Rasulullah saw. menerima informasi dari wahyu bahwa masjid tersebut digunakan oleh kaum munafik sebagai tempat menyusun konspirasi. Karena itu, Allah memerintahkan Rasul untuk membakar masjid tersebut. QS At-Taubah : 107.
Fenomena Kelima: Berita Bohong
Berita bohong ini berkenaan dengan istri Rasulullah saw. pada peristiwa pasca perang Bani Musthaliq. Berita bohong ini sengaja disebarluaskan oleh kalangan orang-orang munafik dalam rangka menghancurkan harga diri Rasulullah saw. dan keluarganya. Allah swt mengabadikan peristiwa ini di dalam QS An-Nur : 11 – 23.
Fenomena Keenam: Kisah Abu Lubabah
Abu Lubabah adalah duta Rasulullah saw. untuk kaum yahudi Quraizhah saat orang-orang Islam mengepung mereka akibat pengkhianatan mereka pada perang Ahzab. Rasul memerintahkan Abu Lubabah untuk berbicara dengan orang-orang Yahudi, namun ia berkhianat. Karena merasa bersalah, ia mengikatkan diri di tiang masjid Nabi dan tidak akan melepaskannya kecuali Rasulullah saw. sendiri yang melepasnya. Berkenaan dengan peristiwa ini, turun QS Al-Anfal : 27, At-Taubah : 102.
Problem dan krisis yang sering muncul di masyarakat, dan menimpa umat Islam, kebanyakan bersumber dari buruknya tarbiyah serta lemahnya komitmen seseorang pada syari’at Allah.
Rusaknya sifat amanah, timbulnya ambisi kekuasaan, minimnya kesetiaan, pengingkaran terhadap kebaikan, pergunjingan dan adu domba, kebencian dan iri hati, bangga diri, ekstrem, serta berbagai penyakit lain yang menggerogoti dan meracuni bangunan Islam biasanya bermula dari penyimpangan dalam tarbiyah Islam dan buruknya kepribadian.
Kondisi ini semakin memperkuat, bahwa pergerakan Islam harus memberikan perhatian besar pada aspek pendidikan aqidah, ruhaniah dan akhlak. Juga, mencegah dominasi aspek-aspek lainnya, seperti birokrasi dan politik. Sebab aspek itu (pendidikan aqidah, ruhaniah, dan akhlak) meruppakan kendali pengaman kepribadian.
Aspek tarbiyah atau pendidikan dalam suatu pergerakan (harakah) terkadang hanya mendapat porsi yang terbatas. Sementara, aspek-aspek lainnya, seperti administrasi organisasi, dan politik mengalahkan segala hal. Kalangan yang kerap kali terjebak seperti itu adalah para pemimpin, administrator, dan orang-orang yang memegang urusan politik dan sosial. Sehingga, membuat mereka putus hubungan dengan tarbiyah serta segala urusan yang berkaitan dengannya. Pada gilirannya, hubungan-hubungan, pertemuan-pertemuan, dan aktivitas-aktivitas mereka menjadi kering dan sepi dari kehidupan Robbani juga kesegaran ruhani. Keterangan: QS Al-Fath: 4, QS Al-Kahfi: 13, QS Maryam: 76, QS Muhammad: 17, QS Muddatstsir: 31.
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya iman itu bisa menjadi lusuh dalam diri salah seorang dari kamu sebagaimana lusuhnya pakaian. Karena itu, mohonkanlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman yang ada di dalam hatimu.” (HR At-Thabarani dan Al-Hakim).
Perhatian setiap individu, baik sebagai bawahan maupun atasan, terhadap tarbiyah seharusnya menjadi kesibukan utama bagi sebuah pergerakan. Bagaimanapun kondisi yang terjadi di sekelilingnya, bahkan situasi buruk apapun yang kadang mengiringi jalannya dakwah, tetap harus memperhatikan tarbiyah, bukan malah sebaliknya. Sebab kebutuhan manusia akan pemeliharaan, perhatian dan peringatan justru lebih besar pada situasi darurat.
Islam juga mengharuskan umatnya untuk selalu memperhatikan diri, merasa selalu dipantau oleh Robbnya, menjaga perilakunya dan menyuburkan keimanannya. Sebab, hati seorang mukmin akan selalu berada di antara jari-jari Ar-Rahman. Ia dapat membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya dan berbagai fitnah dapat merasuk ke dalam hatinya secara bertahap, sebagaimana anyaman tikar. Karena itu, seorang mukmin selalu khawatir mendapat kesengsaraan di akhirat dan selalu memohon kepada Allah swt. agar mendapat kesudahan yang baik (khusnul khotimah).
Apabila sebuah harakah tidak memiliki sistem tarbiyah yang mampu mengontrol, menjaga, dan membina anggotanya, maka akan menemui keruntuhan dan kehancuran. Sebaliknya, pergerakan akan memiliki ketahanan dan kesolidan seukuran perhatian yang diberikannya pada aspek pembinaan.
Karena itu, manhaj (metode) pembinaan harus selalu dikaji, serta disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi yang dilalui oleh pergerakan. Aktivitas tarbiyah tidak boleh berhenti atau terputus karena adanya situasi darurat, atau karena perhitungan dari salah satu aspek operasional. Dan seluruh anggota pergerakan, tanpa kecuali, wajib mendapat kontrol tarbawi dengan mekanisme tertentu.
Ikatan individu dengan pergerakan harus dibangun di atas ikatannya dengan Allah dan ajaran Islam. Sebab, pergerakan atau struktur bukan tujuan. Melainkan sarana untuk melaksanakan perintah Allah dan menggapai keridhoan-Nya, bukan sarana untuk mewujudkan kepentingan pribadi para aktivisnya.
2. Tidak Proporsional dalam Memposisikan Anggota
Problem ini selalu mengantar pada kegagalan aktivitas dan bergugurannya sebagian aktivis. Pergerakan yang profesional dan matang adalah pergerakan yang mengetahui kemampuan, kecenderungan, dan bakat para anggotanya. Juga, mengenal titik-titik kekuatan dan kelemahan mereka. Dengan begitu lembaga ini dapat menempatkan setiap anggota pada posisi sesuai dengan kemampuan, kecenderungan, watak, dan levelnya. Tidak asal pasang orang.
Bila sebuah lembaga pergerakan tidak mengenal potensi anggota-anggotanya secara detail dan teliti, maka tidak akan berhasil memposisikan mereka secara tepat.
Dan jika pergerakan tidak mengenal kebutuhan setiap pos aktivitas, maka tidak akan mampu mengisinya secara benar dan baik. Karena itu, bila sebuah lembaga pergerakan dalam melakukan proses pemilihan anggota tanpa menggunakan pertimbangan-pertimbangan obyektif, maka rusaklah keseimbangan seluruh jaringannya.
Selain itu, apabila sebuah lembaga pergerakan tidak membangun aktivitas programnya pada kaidah dan prinsip yang teruji, tidak menyesuaikan langkahnya dengan rencana dan metode yang telah ditetapkan, tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan hari ini, dan apa yang harus ditangguhkan untuk esok, tidak dapat membedakan yang penting dan yang lebih penting, serta tidak menjadwal berbagai aktivitasnya berdasarkan skala prioritas, maka yang akan terjadi adalah kerancuan. Bahkan dengan terpaksa pergerakan mengisi pos-pos yang masih kosong dengan orang-orang yang tidak berkualitas, dan menyerahkan urusan kepada selain ahlinya. Bila itu yang dilakukan, maka tunggulah saat kehancurannya.
3. Tidak Memberdayakan Semua Anggota
Faktor ini merupakan fenomena yang paling berbahaya bagi suatu pergerakan, karena hal ini menyebabkan aktivitas menjadi menumpuk pada kelompok tertentu. Sementara kelompok mayoritas tidak mendapatkan tugas. Sedangkan waktu terus berjalan, akal dan hati pun berubah-ubah, anggota pergerakan merasa tidak produktif karena lemahnya ikatan keanggotaannya. Di sisi lain, berbagai daya tarik kesibukan dan pesona yang beraneka ragam membayang di depannya, akhirnya semangat dan motivasi jihad yang ada dalam hatinya melemah, lantas ia menghilang dari pentas dakwah, dan terhanyut dalam arus masyarakat serta kesia-siaan yang ada di dalamnya.
4. Lemahnya Kontrol
Di antara penyebab berjatuhan dari jalan dakwah adalah karena tidak adanya kontrol terhadap anggota. Juga, kurangnya perhatian terhadap berbagai situasi yang berpengaruh pada mereka. Sebagaimana umumnya manusia, anggota pergerakan juga menghadapai situasi sulit, krisis dan aneka ragam problem. Baik persoalan kejiwaan, keluarga, ekonomi, atau lainnya. Apabila pergerakan turut membantu mencari solusi dan menyelesaikan semua itu, maka mereka akan melewati masa-masa sulit itu dengan selamat. Setidaknya, anggota merasa nyaman dan diperhatikan oleh lembaga yang selama ini memayunginya. Dan bila itu dilakukan, kepercayaan anggota terhadap pergerakan semakin mantap. Ia pun akan melanjutkan perjuangan dengan penuh semangat. Tetapi bila yang terjadi sebaliknya, maka mereka akan kecewa, frustasi dan akhirnya terpental dari pergerakan. Bahkan, mungkin ia akan keluar dari bingkai Islam.
Agar mampu mengontrol anggotanya, maka lembaga pergerakan harus menyeimbangkan perluasan daerah dan penambahan anggota dengan penyediaan jaringan kepemimpinan yang (dalam kondisi apapun) mampu menguasai basis massa, dan menjamin kebutuhan-kebutuhan mereka yang terus berkembang.
Pola hubungan antar anggota dalam sebuah pergerakan yang telah ditentukan oleh Islam adalah pola hubungan yang dapat membaurkan pemikiran, perasaan, dan ruhani seluruh anggota. Sehingga, menjadi seolah-olah satu tubuh, sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintainya, saling mengasihinya, dan saling bersimpatinya seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya mengeluh karena sakit, maka seluruh tubuhnya merasa terpanggil untuk berjaga semalaman dan merasakan demam..” (HR Muslim)
5. Kurang Sigap dalam Menyelesaikan Persoalan
Setiap pergerakan pasti menemui persoalan yang butuh penyelesaian. Dan, setiap pergerakan memiliki cara dan bentuk tersendiri dalam menangani setiap persoalan tersebut. Apabila suatu lembaga pergerakan melakukan penanganan secara jelas, cepat, dan tepat, maka perjalanannya akan menjadi teratur, dan anggotanya menjadi sehat. Sebaliknya, apabila wadah ini lamban dalam memantau dan menyelesaikan masalah, maka persoalan akan semakin menumpuk dan perjalanan aktivitasnya akan menjadi terganggu.
Sebuah masalah kadang mulanya dipicu oleh persoalan yang kecil dan terbatas. Tetapi bila dibiarkan, akan menjadi semakin besar dan menyebabkan munculnya beberapa problem lain. Terkadang suatu persoalan hanya membutuhkan tidak lebih dari satu kata, satu keputusan, satu kunjungan, sekali pertemuan, sekali pemberian maaf, sekali teguran, sekali nasehat, sekali bantuan, sekali penjelasan, sekali pengungkapan, atau hal-hal mudah lainnya. Tapi ketika persoalan itu dibiarkan dan ditangguhkan, maka akan menyedot banyak energi dan waktu. Sementara persoalan terkadang berhasil diselesaikan dan terkadang tidak dapat diatasi.
Ketidaksigapan pergerakan dalam menyelesaikan persoalannya disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain:
Sebab-sebab munculnya konflik internal cukup banyak, antara lain,
7. Pemimpin yang Lemah
Di antara penyebab langsung berjatuhan anggota pergerakan adalah lemah dan ketidakmampuan pimpinan dalam mengendalikan, serta menjaga keutuhan barisan pada setiap situasi.
Lemahnya kepemimpinan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain,
a. Mengenal Da’wah
Agar pemimpin dapat mengenal dakwahnya secara sempurna, maka ia harus benar-benar menguasai ideologi, doktrin dan struktur dakwah, mengikuti berbagai aktivitasnya, dan memantau gerak-geriknya.
b. Mengenal Diri
Selalu memberi perhatian pada anggotanya, mengenali mereka dengan baik, memantau berbagai hal yang melingkupi mereka (baik secara umum maupun khusus), menyertai kegembiraan dan kesusahan mereka, dan berusaha menyelesaikan problem-problem mereka.
d. Teladan yang Baik
Anggota pergerakan akan selalu menganggap pemimpinnya sebagai figure yang diteladani dan ditiru. Tingkah laku, aktivitas, kepentingan, akhlak, perkataan, dan kerja pemimpin, memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap seluruh jamaahnya.
e. Pandangan yang Tajam
Kemampuan pemimpin dalam melakukan penilaian secara cepat dan tepat terhadap berbagai peristiwa, serta kemampuannya mengambil keputusan tegas dan bijak dalam berbagai situasi, dapat menumbuhkan kepercayaan dan penghargaan anggota kepadanya.
f. Kemauan yang Kuat
g. Fitrah yang Mengundang Simpati
h. Optimisme
Pemimpin adalah perintis jalan dan kepala rombongan yang memiliki pengaruh kuat terhadap barisan. Bila ia lemah dan mudah putus asa, maka barisan pun akan mengikutinya. Bila ia tegar menghadapi berbagai bencana dan berbagai tantangan, maka optimisme dan semangat pantang mundur akan memenuhi jiwa bawahannya.
QS An-Nisa: 120
QS Ali Imran: 175
QS Al-Fath: 11
QS Al-Jumu’ah: 6-8
QS Al-Ankabut: 10-11
QS Ali Imran: 168
“Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, sedangkan neraka dikelilingi dengan syahwat (hal-hal yang menyenangkan).” (HR Muslim, Ahmad, dan At-Turmudzi)
“Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang yang semisal dan seterusnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya, bila ia kuat memegang agamanya, maka ujiannya amat berat, dan bila ada kelemahan dalam memegang agamanya, maka akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Cobaan akan selalu datang kepada hamba hingga ia dibiarkan berjalan di atas bumi dengan tidak membawa dosa.” (HR Bukhari , Ahmad, dan At-Turmudzi)
“Orang yang paling berat ujiannya di dunia ini adalah nabi atau kekasih pilihan Allah.” (HR Bukhari)
“Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shalih. Sungguh salah seorang mereka diuji dengan kefakiran hingga tidak memiliki apa-apa kecuali selembar pakaian yang dipotong lalu dipakai, dan ada di antara mereka diuji dengan kutu kepala yang menyebabkan kematiannya. Sungguh salah seorang dari mereka merasa lebih bergembira mendapatkan ujian daripada mendapatkan anugrah (pemberian).” (HR Ibnu Majah)
“Celakalah hamba dinar, dirham, dan pakaian. Celaka dan sengsaralah ia. Bila ia tertusuk duri, maka semoga tidak akan tercabut.” (HR Ibnu Majah)
“Celakalah hamba istri.” (HR Bukhari)
3. Sikap Ekstrem dan Berlebihan
Sikap ekstrem dan berlebihan dapat menjadi penyebab bergugurannya sebagian orang di jalan dakwah. Orang yang membebani diri melebihi kemampuannya, tidak menerima sikap moderat, dan bersikeras untuk berlebih-lebihan dalam segala hal, pasti akan mengalami frustasi kejiwaan dan keimanan.
4. Sikap Mempermudah dan Menganggap Enteng
Dari ‘Aisyah ra. Rasulullah saw. bersabda, “Wahai ‘Aisyah, jauhilah olehmu dosa-dosa yang dianggap kecil, sebab ia punya penuntut dari Allah swt.” (HR Nasa’i dan lainnya)
Dari Anas ra. ia berkata, “Sesungguhnya kamu melakukan beberapa amalan (dosa) yang menurut pandangan mata kamu lebih halus daripada rambut, sedang kami pada masa Rasulullah saw. menganggapnya sebagai hal-hal yang membinasakan.” (HR Bukhari)
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra., Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah oleh kalian dosa-dosa yang dianggap kecil, sebab ia akan berhimpun hingga membinasakan pelakunya.” Rasulullah saw. mengumpamakan dengan suatu kaum yang singgah di tanah lapang, lantas juru masaknya datang, maka orang-orang datang dengan membawa sebatang kayu, seorang lagi datang dengan membawa sebatang kayu hingga terkumpul banyak, lalu mereka membakarnya, dan dapat memasakkan sesuatu yang dilempar di dalamnya.” (HR Ahmad dan Ath-Thabrani)
5. Ghurur dan Senang Tampil
Faktor lain yang menjadi penyebab berjatuhan di jalan dakwah adalah penyakit ghurur (tertipu oleh diri sendiri) dan senang menampilkan diri. Penyakit batin ini sangat berbahaya, karena dapat menghancurkan jiwa para aktivis dakwah, merusak amal, menghapus pahala dan mencelakakan mereka di akhirat.
“Sesungguhnya apa yang aku takutkan terhadap ummatku adalah syirik kepada Allah swt., saya tidak mengatakan mereka menyembah matahari, atau bulan atau berhala, akan tetapi amal-amal yang ditujukan kepada selain karena Allah swt, dan syahwat yang tersembunyi.” (HR Ibnu Majah)
(QS Al-Qashash : 83)
“Tiga perkara yang membinasakan: bakhil yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap diri sendiri.” (HR Ath-Thabrani)
“Andaikata kamu tidak berbuat dosa, maka aku khawatir terhadap kamu apa yang lebih besar daripada itu, yaitu sifat ujub.” (HR Ibnu Hibban dan Baihaqi, sedang Bukhari mengingkarinya.)
‘Aisyah pernah ditanya, “Kapan seseorang dianggap berbuat jahat?” Ia menjawab, “Bila menyangka telah berbuat baik.”. Mutharrif pernah berkata, “Saya tidur semalam, dan bangun pada pagi hari dalam keadaan menyesal, lebih aku cintai daripada aku bangun malam (sholat malam) dan di pagi harinya aku merasa bangga (ujub).”
6. Cemburu terhadap Orang Lain
Di antara sebab yang membuat seseorang terjatuh di jalan dakwah adalah cemburu buta terhadap orang lain. Terutama, terhadap orang-orang yang terdepan, terpandang, sukses, dan yang dikaruniai keahlian yang tidak dimiliki orang lain. Setiap jama’ah menghimpun barisannya dengan beragam jenis orang yang memiliki tingkat keahlian berbeda. Begitu juga dengan keragaman kepribadian, kejiwaan, kefanatikan dan pemikiran.
(QS Al-Maidah: 27-30)
(QS An-Nisa : 54)
“Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah olehmu prasangka (buruk), karena sesungguhnya prasangka (buruk) itu perkataan yang paling dusta. Dan janganlah kamu mengorek-ngorek berita, janganlah kamu memata-matai, janganlah kamu saling bersaing, janganlah kamu saling mendengki, janganlah kamu saling marah, dan janganlah kamu saling membelakangi (membenci). Jadilah kamu hamba Allah swt yang bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah swt. Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh membiarkannya (tidak menolongnya), dan tidak boleh menghinakannya. Taqwa itu di sini, taqwa itu di sini (beliau mengisyaratkan ke dadanya). Cukuplah dosa seseorang kalau dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, kehormatannya dan hartanya.” (HR Bukhari dan Muslim)
7. Fitnah Senjata
Sikap ekstrem yang paling berbahaya adalah yang berkaitan dengan penggunaan kekuatan. Karena hal itu dapat menimbulkan perkara yang tidak hanya menimpa personal, tetapi juga dapat menimpa sebuah wadah pergerakan secara keseluruhan.
Sebab timbulnya fitnah senjata:
Pertama, tidak jelasnya tujuan pembentukan kekuatan
Kedua, tidak memenuhi syarat penggunaan kekuatan
A. Mengoptimalkan penggunaan sarana-sarana lain terlebih dahulu, sehingga penggunaan kekuatan fisik menjadi penyelesaian akhir
B. Menyerahkan persoalan pada kebijakan imam dan jama’atul muslimin (khilafah Islam), bukan pada perorangan atau masyarakat umum
C. Tidak mengundang kerusakan atau fitnah
D. Tidak melanggar kebijakan syari’at
E. Disesuaikan dengan skala prioritas
F. Dipersiapkan dengan benar dan matang
G. Tidak gegabah dan reaksioner
H. Tidak menjerumuskan umat Islam dalam pertarungan yang tidak seimbang
Tribulasi atau penyiksaan fisik dalam kehidupan dakwah dan da’inya adalah alat pembersih paling efektif dan penguji paling berhasil. Berapa banyak orang yang menghilang dari panggung amal Islami setelah mendapat siksaan fisik. Padahal, sebelumnya mereka termasuk orang-orang yang paling bersemangat. (QS Al-Ankabut: 1-3), (QS Muhammad: 31)
Allah swt. juga menjelaskan tipe-tipe manusia dalam menghadapi tribulasi. Di antara mereka ada yang teguh dan sabar karena mengharap pahala dari Allah (QS Ali Imran: 173), (QS Al-Ahzab: 22-23), dan di antara mereka juga ada yang lemah, tidak mampu bertahan, dan akhirnya gugur dan menghilang dari kancah pertarungan (QS Al-Ankabut: 10-11).
2. Tekanan Keluarga
Salah satu tekanan yang dihadapi oleh para aktivis perjuangan Islam, dan terkadang mengakibatkan gugurnya sebagian dari mereka adalah keluarga dan kerabat: ayah, ibu, istri, anak dan lainnya. Sedikit sekali aktivis Muslim yang bisa terbebas dari tekanan keluarga. Sebab, secara umum keluarga mengkhawatirkan kalau anak-anak mereka tertimpa derita seperti yang sedang menimpa para da’i, mujahid (pejuang) dan para aktivis di sepanjang masa. (QS At-Taubah: 24), (QS Maryam: 41-46).
3. Tekanan Lingkungan
Faktor lain yang menjadi penyebab bergugurannya sebagian aktivis dari pentas dakwah adalah tekanan lingkungan. Seorang muslim terkadang tumbuh dalam lingkungan yang komitmen terhadap Islam. Namun kemudian, karena studi atau pekerjaan berpindah ke lingkungan lain, di mana pengaruh-pengaruh negatif lebih banyak dan daya tarik jahiliyah lebih kuat, ia pun mudah terpengaruh. Di sinilah pertarungan mulai berkecamuk, mungkin ia mampu bertahan dan menang atau mungkin kalah dan terbawa arus.
Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang dapat dikalahkan oleh tekanan lingkungan sangat banyak. Antara lain,
Gerakan-gerakan destruktif selalu ada pada setiap waktu dan tempat. Faktor yang bisa menjadikan para aktivis Islam berguguran di jalan dakwah ini, selalu muncul dan bekerja keras menebarkan keraguan. Ibarat palu godam yang dipersiapkan untuk menghantam gerakan Islam dan menghancurkannya dengan mengatasnamakan Islam.
5. Tekanan dari Figuritas
Salah satu penyebab bergugurannya aktivis di jalan dakwah adalah figuritas dan segala kaitannya yang tercakup dalam penyakit ujub (bangga diri), ghurur (tertipu), terlalu mencintai diri sendiri, sombong dan egois. Penyakit inilah yang menyebabkan kebinasaan iblis yang membanggakan dosanya. (QS Al-A’raf: 12)
Wallahu ‘alam bishshawwab
Bergugurannya seseorang di jalan dakwah bermakna pengunduran dirinya dari kancah perjuangan Islam, baik dengan perkataan atau mungkin cukup dengan sikapnya yang semakin menjauh dari dakwah. Hilangnya semangat juang, kaburnya niatan ikhlas, ketidakdisiplinan, berkurangnya porsi waktu untuk mengurus dakwah, meremehkan berbagai fadhilah atau keutamaan dakwah, serta mengabaikan ketetapan syari’at merupakan indikasi seseorang tergerogoti ‘virus’ tasaquth ini. Bukan berarti ia tidak mengerti Islam atau dakwah, bahkan mungkin ia sangat mengerti Islam, dakwah, dan syari’at, dan pada masa sebelumnya ia termasuk dalam orang-orang yang sangat bersemangat mengobarkan api perjuangan dakwah. Tetapi tasaquth yang menggerogoti dirinya disebabkan ketidak-kuatan jiwanya dalam menanggung sengitnya perjuangan dakwah yang panjang nan melelahkan serta beragam variasi bentuk fitnah atau ujian yang dia alami di setiap perubahan waktu dan kondisi.
Di satu sisi, memang Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan dakwah sebagai kewajiban syar’i dan memiliki tabi’atnya sendiri. Jalan dakwah adalah jalan ujian, dalam rangka menguji tingkat keimanan seorang Muslim. Inilah inti dari segala bentuk tabi’at jalan dakwah. Memang, kemenangan dan tegaknya Islam merupakan tujuan konkret dakwah. Namun Allah ‘Azza wa Jalla tidak pernah memaksa para pejuang-Nya untuk bersegera mewujudkan hal ini, karena kemenangan hanya datang dari sisi-Nya. Justru dalam berbagai keterangan dalam Al-Qur’an, Allah seringkali mewasiatkan pada hamba-Nya yang berjuang untuk tetap pada rambu-rambu yang digariskan syari’at, bersabar dalam menghadapi fitnah, ikhlas demi kehidupan akhirat, mencintai bentuk-bentuk pengorbanan, dan berhati-hati dalam menghadapi gejala tasaquth.
Ini menandakan bahwa fenomena bergugurannya orang-orang Muslim dari jalan dakwah-ujian ini telah ada akan selalu ada. Rasulullah saw. bersabda, “Bagaimana kalian, jika wanita-wanita telah bejat, para pemuda berbuat fasik dan kamu meninggalkan jihad?” Para sahabat bertanya, “Apakah hal demikian bakal terjadi wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Benar, dan demi yang diriku dalam genggaman-Nya, lebih dahsyat dari itu pun bakal terjadi. Bagaimana kalian jika kalian tidak memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar?” Para sahabat bertanya, “Apakah hal itu bakal terjadi wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Benar, dan demi yang diriku berada dalam genggaman-Nya, lebih hebat dari itupun bakal terjadi.” Mereka bertanya, “Apakah yang lebih hebat itu?” Nabi menjawab, “Bagaimana jika kalian memandang yang ma’ruf sebagai yang munkar dan memandang yang munkar sebagai yang ma’ruf.” Para sahabat bertanya, “Apakah hal demikia bakal terjadi?” Nabi menjawab, “Benar, dan demi yang diriku dalam genggaman-Nya, lebih dahsyat dari itu pun bakal terjadi. Bagaiamana jika kalian memerintahkan yang munkar dan melarang yang ma’ruf?” Para sahabat bertanya, “Apakah demikian bakal terjadi?” Nabi menjawab, “Benar, lebih hebat dari itu pun bakal terjadi. Allah swt. berfirman dalam hadits Qudsi, ‘Demi Diriku, Aku bersumpah akan kutimpakan kepada mereka fitnah di mana orang-orang bijak menjadi kebingungan.’” (Abu Ya’la)
Di sisi lain, keniscayaan terjadinya fenomena tasaquth ini sama sekali tidak boleh membuat kita menganggapnya sebagai sebuah kewajaran. Bahkan kita terus dituntut untuk serius berusaha meminimalisir terjadinya tasaquth ini dengan segala upaya demi menyelamatkan dan menjaga keberkahan gerakan dakwah yang kita perjuangkan.
Dalam kajiannya, Fathi Yakan menjelaskan analisis tentang fenomena tasaquth ini disertai penyebab-penyebab terjadinya. Harapannya, dengan mengetahui penyebab-penyebab tasaquth, setiap Muslim yang memperjuangkan dakwah dapat lebih mawas diri dalam amal-amalnya.
Mukadimah
Perlu diingat bahwa fenomena berjatuhan ini banyak terjadi dan menimpa pada barisan terdepan. Yaitu, para pendiri dan generasi awal pergerakan, meski para penerusnya juga tidak terbebas dari fenomena tersebut. Fenomena berguguran ini telah, dan akan selalu menorehkan keburukan dalam kancah amal Islami. Berikut penulis sebutkan beberapa dampak buruknya.
- Menyebabkan terkurasnya waktu dan energi pergerakan dalam menangani hal-hal yang sedikit sekali manfaatnya.
- Menyebabkan tersebarnya berbagai fitnah, perpecahan, dan kehancuran dalam tubuh pergerakan, hingga mementahkan kembali orang-orang yang baru masuk Islam dan baru mengenal dunia dakwah.
- Menyebabkan terbongkarnya berbagai rahasia yang seharusnya tersimpan rapi. Andaikata tidak ada tekanan fitnah, dan lidah serta telinga tidak terjerat dalam cengkeraman setan, maka rahasia itu tidak akan terungkap.
- Menyebabkan lemahnya pergerakan, serta memancing musuh agar segera menyerang dan menghancurkannya.
- Menyebabkan jauhnya kaum muslimin dari pergerakan, melemahnya kepercayaan dan terjadinya pelecehan terhadapnya. Ini semua dapat memandulkan produktivitas, bahkan terkadang dapat menghentikan aktivitas dakwah secara total.
Bagian Pertama: Fenomena Berjatuhan di Masa Kenabian
Fenomena berjatuhan di jalan dakwah pada masa kenabian tidak tampak jelas seperti yang terjadi pada zaman modern sekarang ini. Kebanyakan yang terjadi pada masa itu adalah terjatuhnya beberapa pribadi ke dalam kekeliruan, meski sebagiannya merupakan kesalahan besar. Hal ini disebabkan tabi’at amal pada masa itu membawa manusia pada salah satu dari dua pilihan, dan tidak ada pilihan yang ketiga. Yakni, memilih hidup secara Islami atau jahiliyah. Hal ini menyebabkan, kaum muslimin pada masa itu tak berani keluar dari barisan Islam, karena takut pada sanksi kemurtadan.
Fenomena Pertama: Yang Tertinggal dari Perang Tabuk
Perang Tabuk adalah perang yang disiapkan oleh Rasulullah saw. secara terang-terangan dalam rangka menghadang kaum Romawi dan Ghassan di utara yang diisukan bahwa mereka menyiapkan segelar pasukan yang besar. Perang ini amat penting, namun saat itu sedang terjadi musim kemarau panjang dan buah-buahan sedang masak. Karena itu, peperangan ini Allah jadikan sebagai pelajaran berat bagi kaum mu’min sekaligus mengeliminasi kaum munafik, sebagaimana yang diterangkan dalam beberapa ayat surat At-Taubah.
Sebanyak tiga puluh ribu prajurit Muslim berangkat, meninggalkan kaum muslim yang secara syar’i diperbolehkan untuk tidak mengikuti peperangan. Namun, di antara mereka ada segelintir orang munafik yang mencari-cari alasan untuk tidak mengikuti peperangan. Bukan berarti mereka tidak mampu, namun hati mereka menjadi kecut dalam menghadapi perang pada masa itu.
Tatkala Rasulullah saw. kembali ke Madinah, orang-orang yang tidak mengikuti peperangan mengemukakan alasan-alasan mereka. Namun, di antara mereka ada tiga orang yang dalam hatinya masih tertanam keimanan yang kuat. Mereka mengakui kelalaiannya di hadapan Rasul, dan mengatakan bahwa tidak ada halangan berarti untuk mengikuti peperangan. Berdasarkan wahyu yang diterima, Rasulullah saw. memerintahkan untuk mengisolir mereka (tidak mengajak bicara sedikitpun). Mereka adalah Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah. QS At-Taubah : 95-96, 117-119
Fenomena Kedua: Kisah Ka’ab bin Malik
Ka’ab bin Malik adalah salah satu dari tiga orang yang di-iqob oleh Rasul, dan kisahnya amat terkenal. Ka’ab dan ketiga sahabat yang lain diisolir hingga lima puluh hari setelah Allah menurunkan ayat yang menerangkan penerimaan taubat mereka di sisi Allah.
Fenomena Ketiga: Kisah Hathib Abi Balta’ah
Hathib bin Abi Balta’ah dapat dikatakan melakukan sesuatu yang dewasa ini dianggap sebagai pembocoran rahasia negara dan pengkhianatan besar, sehingga memunculkan sikap anti pati dari massa dan sikap pemaaf dari kepemimpinan.
Saat Rasulullah saw. merencanakan pemberangkatan segelar pasukan muslim menuju Makkah, beliau berusaha menjaga agar orang-orang Makkah tidak tahu menau mengenai pemberangkatan ini, dengan tujuan mereka tidak sempat mengadakan persiapan sedikitpun untuk melawan, sehingga seluruh kondisi sepenuhnya dikuasai kaum Muslimin. Namun, secara sembunyi-sembunyi Hathib bin Abi Balta’ah mengirimkan surat untuk orang-orang Makkah tentang pemberangkatan ini, dengan perantara seorang wanita. Namun, kabar ini dapat diketahui Rasulullah saw. dan akhirnya terbongkar. Para sahabat sangat geram, namun Rasulullah saw. memaafkan tingkah Hathib ini sebagai penghormatan dirinya sebagai pejuang Badar. Berkenaan dengan peristiwa ini, turun QS Al-Mumtahanah : 1-4.
Fenomena Keempat: Masjid Dhiror
Kaum munafik pada zaman Rasulullah saw. selalu mencari-cari celah untuk menggoyahkan kekuatan kaum Muslimin dari dalam. Karena itu, mereka mendirikan Masjid Dhiror dengan dalih sebagai tempat ibadah dan menyelesaikan persoalan sosial ummat. Mereka meminta Rasulullah saw. untuk shalat di masjid mereka, sepulang dari perang Tabuk. Namun, Rasulullah saw. menerima informasi dari wahyu bahwa masjid tersebut digunakan oleh kaum munafik sebagai tempat menyusun konspirasi. Karena itu, Allah memerintahkan Rasul untuk membakar masjid tersebut. QS At-Taubah : 107.
Fenomena Kelima: Berita Bohong
Berita bohong ini berkenaan dengan istri Rasulullah saw. pada peristiwa pasca perang Bani Musthaliq. Berita bohong ini sengaja disebarluaskan oleh kalangan orang-orang munafik dalam rangka menghancurkan harga diri Rasulullah saw. dan keluarganya. Allah swt mengabadikan peristiwa ini di dalam QS An-Nur : 11 – 23.
Fenomena Keenam: Kisah Abu Lubabah
Abu Lubabah adalah duta Rasulullah saw. untuk kaum yahudi Quraizhah saat orang-orang Islam mengepung mereka akibat pengkhianatan mereka pada perang Ahzab. Rasul memerintahkan Abu Lubabah untuk berbicara dengan orang-orang Yahudi, namun ia berkhianat. Karena merasa bersalah, ia mengikatkan diri di tiang masjid Nabi dan tidak akan melepaskannya kecuali Rasulullah saw. sendiri yang melepasnya. Berkenaan dengan peristiwa ini, turun QS Al-Anfal : 27, At-Taubah : 102.
Problem dan krisis yang sering muncul di masyarakat, dan menimpa umat Islam, kebanyakan bersumber dari buruknya tarbiyah serta lemahnya komitmen seseorang pada syari’at Allah.
Rusaknya sifat amanah, timbulnya ambisi kekuasaan, minimnya kesetiaan, pengingkaran terhadap kebaikan, pergunjingan dan adu domba, kebencian dan iri hati, bangga diri, ekstrem, serta berbagai penyakit lain yang menggerogoti dan meracuni bangunan Islam biasanya bermula dari penyimpangan dalam tarbiyah Islam dan buruknya kepribadian.
Kondisi ini semakin memperkuat, bahwa pergerakan Islam harus memberikan perhatian besar pada aspek pendidikan aqidah, ruhaniah dan akhlak. Juga, mencegah dominasi aspek-aspek lainnya, seperti birokrasi dan politik. Sebab aspek itu (pendidikan aqidah, ruhaniah, dan akhlak) meruppakan kendali pengaman kepribadian.
Sebab-sebab Tasaquth
Pertama: Sebab-sebab yang Bersumber dari Pergerakan
1. Lemahnya Aspek TarbiyahAspek tarbiyah atau pendidikan dalam suatu pergerakan (harakah) terkadang hanya mendapat porsi yang terbatas. Sementara, aspek-aspek lainnya, seperti administrasi organisasi, dan politik mengalahkan segala hal. Kalangan yang kerap kali terjebak seperti itu adalah para pemimpin, administrator, dan orang-orang yang memegang urusan politik dan sosial. Sehingga, membuat mereka putus hubungan dengan tarbiyah serta segala urusan yang berkaitan dengannya. Pada gilirannya, hubungan-hubungan, pertemuan-pertemuan, dan aktivitas-aktivitas mereka menjadi kering dan sepi dari kehidupan Robbani juga kesegaran ruhani. Keterangan: QS Al-Fath: 4, QS Al-Kahfi: 13, QS Maryam: 76, QS Muhammad: 17, QS Muddatstsir: 31.
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya iman itu bisa menjadi lusuh dalam diri salah seorang dari kamu sebagaimana lusuhnya pakaian. Karena itu, mohonkanlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman yang ada di dalam hatimu.” (HR At-Thabarani dan Al-Hakim).
Perhatian setiap individu, baik sebagai bawahan maupun atasan, terhadap tarbiyah seharusnya menjadi kesibukan utama bagi sebuah pergerakan. Bagaimanapun kondisi yang terjadi di sekelilingnya, bahkan situasi buruk apapun yang kadang mengiringi jalannya dakwah, tetap harus memperhatikan tarbiyah, bukan malah sebaliknya. Sebab kebutuhan manusia akan pemeliharaan, perhatian dan peringatan justru lebih besar pada situasi darurat.
Islam juga mengharuskan umatnya untuk selalu memperhatikan diri, merasa selalu dipantau oleh Robbnya, menjaga perilakunya dan menyuburkan keimanannya. Sebab, hati seorang mukmin akan selalu berada di antara jari-jari Ar-Rahman. Ia dapat membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya dan berbagai fitnah dapat merasuk ke dalam hatinya secara bertahap, sebagaimana anyaman tikar. Karena itu, seorang mukmin selalu khawatir mendapat kesengsaraan di akhirat dan selalu memohon kepada Allah swt. agar mendapat kesudahan yang baik (khusnul khotimah).
Apabila sebuah harakah tidak memiliki sistem tarbiyah yang mampu mengontrol, menjaga, dan membina anggotanya, maka akan menemui keruntuhan dan kehancuran. Sebaliknya, pergerakan akan memiliki ketahanan dan kesolidan seukuran perhatian yang diberikannya pada aspek pembinaan.
Karena itu, manhaj (metode) pembinaan harus selalu dikaji, serta disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi yang dilalui oleh pergerakan. Aktivitas tarbiyah tidak boleh berhenti atau terputus karena adanya situasi darurat, atau karena perhitungan dari salah satu aspek operasional. Dan seluruh anggota pergerakan, tanpa kecuali, wajib mendapat kontrol tarbawi dengan mekanisme tertentu.
Ikatan individu dengan pergerakan harus dibangun di atas ikatannya dengan Allah dan ajaran Islam. Sebab, pergerakan atau struktur bukan tujuan. Melainkan sarana untuk melaksanakan perintah Allah dan menggapai keridhoan-Nya, bukan sarana untuk mewujudkan kepentingan pribadi para aktivisnya.
2. Tidak Proporsional dalam Memposisikan Anggota
Problem ini selalu mengantar pada kegagalan aktivitas dan bergugurannya sebagian aktivis. Pergerakan yang profesional dan matang adalah pergerakan yang mengetahui kemampuan, kecenderungan, dan bakat para anggotanya. Juga, mengenal titik-titik kekuatan dan kelemahan mereka. Dengan begitu lembaga ini dapat menempatkan setiap anggota pada posisi sesuai dengan kemampuan, kecenderungan, watak, dan levelnya. Tidak asal pasang orang.
Bila sebuah lembaga pergerakan tidak mengenal potensi anggota-anggotanya secara detail dan teliti, maka tidak akan berhasil memposisikan mereka secara tepat.
Dan jika pergerakan tidak mengenal kebutuhan setiap pos aktivitas, maka tidak akan mampu mengisinya secara benar dan baik. Karena itu, bila sebuah lembaga pergerakan dalam melakukan proses pemilihan anggota tanpa menggunakan pertimbangan-pertimbangan obyektif, maka rusaklah keseimbangan seluruh jaringannya.
Selain itu, apabila sebuah lembaga pergerakan tidak membangun aktivitas programnya pada kaidah dan prinsip yang teruji, tidak menyesuaikan langkahnya dengan rencana dan metode yang telah ditetapkan, tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan hari ini, dan apa yang harus ditangguhkan untuk esok, tidak dapat membedakan yang penting dan yang lebih penting, serta tidak menjadwal berbagai aktivitasnya berdasarkan skala prioritas, maka yang akan terjadi adalah kerancuan. Bahkan dengan terpaksa pergerakan mengisi pos-pos yang masih kosong dengan orang-orang yang tidak berkualitas, dan menyerahkan urusan kepada selain ahlinya. Bila itu yang dilakukan, maka tunggulah saat kehancurannya.
3. Tidak Memberdayakan Semua Anggota
Faktor ini merupakan fenomena yang paling berbahaya bagi suatu pergerakan, karena hal ini menyebabkan aktivitas menjadi menumpuk pada kelompok tertentu. Sementara kelompok mayoritas tidak mendapatkan tugas. Sedangkan waktu terus berjalan, akal dan hati pun berubah-ubah, anggota pergerakan merasa tidak produktif karena lemahnya ikatan keanggotaannya. Di sisi lain, berbagai daya tarik kesibukan dan pesona yang beraneka ragam membayang di depannya, akhirnya semangat dan motivasi jihad yang ada dalam hatinya melemah, lantas ia menghilang dari pentas dakwah, dan terhanyut dalam arus masyarakat serta kesia-siaan yang ada di dalamnya.
4. Lemahnya Kontrol
Di antara penyebab berjatuhan dari jalan dakwah adalah karena tidak adanya kontrol terhadap anggota. Juga, kurangnya perhatian terhadap berbagai situasi yang berpengaruh pada mereka. Sebagaimana umumnya manusia, anggota pergerakan juga menghadapai situasi sulit, krisis dan aneka ragam problem. Baik persoalan kejiwaan, keluarga, ekonomi, atau lainnya. Apabila pergerakan turut membantu mencari solusi dan menyelesaikan semua itu, maka mereka akan melewati masa-masa sulit itu dengan selamat. Setidaknya, anggota merasa nyaman dan diperhatikan oleh lembaga yang selama ini memayunginya. Dan bila itu dilakukan, kepercayaan anggota terhadap pergerakan semakin mantap. Ia pun akan melanjutkan perjuangan dengan penuh semangat. Tetapi bila yang terjadi sebaliknya, maka mereka akan kecewa, frustasi dan akhirnya terpental dari pergerakan. Bahkan, mungkin ia akan keluar dari bingkai Islam.
Agar mampu mengontrol anggotanya, maka lembaga pergerakan harus menyeimbangkan perluasan daerah dan penambahan anggota dengan penyediaan jaringan kepemimpinan yang (dalam kondisi apapun) mampu menguasai basis massa, dan menjamin kebutuhan-kebutuhan mereka yang terus berkembang.
Pola hubungan antar anggota dalam sebuah pergerakan yang telah ditentukan oleh Islam adalah pola hubungan yang dapat membaurkan pemikiran, perasaan, dan ruhani seluruh anggota. Sehingga, menjadi seolah-olah satu tubuh, sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintainya, saling mengasihinya, dan saling bersimpatinya seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya mengeluh karena sakit, maka seluruh tubuhnya merasa terpanggil untuk berjaga semalaman dan merasakan demam..” (HR Muslim)
5. Kurang Sigap dalam Menyelesaikan Persoalan
Setiap pergerakan pasti menemui persoalan yang butuh penyelesaian. Dan, setiap pergerakan memiliki cara dan bentuk tersendiri dalam menangani setiap persoalan tersebut. Apabila suatu lembaga pergerakan melakukan penanganan secara jelas, cepat, dan tepat, maka perjalanannya akan menjadi teratur, dan anggotanya menjadi sehat. Sebaliknya, apabila wadah ini lamban dalam memantau dan menyelesaikan masalah, maka persoalan akan semakin menumpuk dan perjalanan aktivitasnya akan menjadi terganggu.
Sebuah masalah kadang mulanya dipicu oleh persoalan yang kecil dan terbatas. Tetapi bila dibiarkan, akan menjadi semakin besar dan menyebabkan munculnya beberapa problem lain. Terkadang suatu persoalan hanya membutuhkan tidak lebih dari satu kata, satu keputusan, satu kunjungan, sekali pertemuan, sekali pemberian maaf, sekali teguran, sekali nasehat, sekali bantuan, sekali penjelasan, sekali pengungkapan, atau hal-hal mudah lainnya. Tapi ketika persoalan itu dibiarkan dan ditangguhkan, maka akan menyedot banyak energi dan waktu. Sementara persoalan terkadang berhasil diselesaikan dan terkadang tidak dapat diatasi.
Ketidaksigapan pergerakan dalam menyelesaikan persoalannya disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain:
- Terkadang disebabkan oleh jajaran pimpinan yang tidak terbiasa dan tidak mampu memberikan solusi secara tuntas serta cepat.
- Terkadang disebabkan oleh rutinitas struktural yang mengharuskan setiap persoalan mengalir melalui jajaran struktur, sehingga pimpinan tidak dapat memberikan penyelesaian yang cepat.
- Terkadang disebabkan oleh luasnya basis massa, minimnya pemimpin dan kurangnya kemampuan pimpinan dalam memenuhi tuntutan. Padahal, berbagai aktivitas biasanya hanya dapat dipenuhi oleh jaringan kepemimpinan yang full time dan memiliki pengalaman memadai.
Sebab-sebab munculnya konflik internal cukup banyak, antara lain,
- Lemahnya pimpinan dalam mengendalikan barisan dan mengatur berbagai urusan.
- Adanya tangan-tangan tersembunyi dan kekuatan eksternal yang sengaja mengobar fitnah.
- Perbedaan watak dan kecenderungan antar anggota yang disebabkan oleh ketidaksingkronan antara tarbiyah dan lingkungan.
- Persaingan untuk mendapatkan kedudukan atau posisi struktural maupun politis.
- Tidak adanya komitmen pada kebijakan, kaidah-kaidah serta prinsip-prinsip pergerakan, ketidaktaatan pada keputusan jajaran pimpinan, dan munculnya sikap-sikap infiradi (mengabaikan sistem syuro).
- Kosongnya aktivitas dan mandulnya produktivitas, padahal keduanya seharusnya menjadi kesibukan satu-satunya para aktivis dakwah dan penguras tenaga mereka.
7. Pemimpin yang Lemah
Di antara penyebab langsung berjatuhan anggota pergerakan adalah lemah dan ketidakmampuan pimpinan dalam mengendalikan, serta menjaga keutuhan barisan pada setiap situasi.
Lemahnya kepemimpinan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain,
- Lemahnya daya nalar dan intelektual pimpinan, sehingga tak mampu memberi kepuasan pada kehausan intelektual pemikiran bawahan. Atau, terkadang ia mampu dalam aspek pemikiran, tapi lemah pada aspek-aspek lainnya.
- Terkadang disebabkan oleh lemahnya kemampuan struktural, di mana jajaran pimpinan tidak memiliki bakat dan kemampuan manajerial yang dapat mengendalikan struktur, serta meletakkan prinsip-prinsip dasar keorganisasian. Maka itu, aktivitas menjadi kacau, kepentingan menjadi tumpang tindih, problem semakin menumpuk, dan berbagai permasalahan semakin berkembang. Hal ini dapat memicu munculnya fenomena berguguran di jalan dakwah.
a. Mengenal Da’wah
Agar pemimpin dapat mengenal dakwahnya secara sempurna, maka ia harus benar-benar menguasai ideologi, doktrin dan struktur dakwah, mengikuti berbagai aktivitasnya, dan memantau gerak-geriknya.
b. Mengenal Diri
- Mengenali kelemahan diri dan berusaha memperbaikinya.
- Mengetahui keunggulan diri dan berusaha mempertahankan, serta mengembangkannya.
- Memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan tsaqafah-nya dengan mengkaji berbagai tema, pendapat serta pemikiran-pemikiran politik, sosial, ekonomi, dan seterusnya.
- Memiliki semangat untuk mengkaji dan mempelajari tokoh-tokoh pemimpin Islam dan lainnya, mengenali berbagai metode dan gaya kepemimpinan mereka, serta menganalisis berbagai faktor yang menyebabkan keberhasilan atau kegagalan mereka.
Selalu memberi perhatian pada anggotanya, mengenali mereka dengan baik, memantau berbagai hal yang melingkupi mereka (baik secara umum maupun khusus), menyertai kegembiraan dan kesusahan mereka, dan berusaha menyelesaikan problem-problem mereka.
d. Teladan yang Baik
Anggota pergerakan akan selalu menganggap pemimpinnya sebagai figure yang diteladani dan ditiru. Tingkah laku, aktivitas, kepentingan, akhlak, perkataan, dan kerja pemimpin, memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap seluruh jamaahnya.
e. Pandangan yang Tajam
Kemampuan pemimpin dalam melakukan penilaian secara cepat dan tepat terhadap berbagai peristiwa, serta kemampuannya mengambil keputusan tegas dan bijak dalam berbagai situasi, dapat menumbuhkan kepercayaan dan penghargaan anggota kepadanya.
f. Kemauan yang Kuat
g. Fitrah yang Mengundang Simpati
h. Optimisme
Pemimpin adalah perintis jalan dan kepala rombongan yang memiliki pengaruh kuat terhadap barisan. Bila ia lemah dan mudah putus asa, maka barisan pun akan mengikutinya. Bila ia tegar menghadapi berbagai bencana dan berbagai tantangan, maka optimisme dan semangat pantang mundur akan memenuhi jiwa bawahannya.
Kedua: Sebab-sebab yang Bersumber dari Individu
1. Watak Indisipliner- Di antara mereka ada yang tidak siap memikul beban-beban tugas struktural. Karena itu, ketika mendapatkan tugas, ia berusaha kabur dan melepaskan diri dari struktur dengan berbagai cara dan alasan.
- Di antara mereka ada yang enggan meleburkan diri dalam bangunan jama’ah, dan berkeinginan kuat menjaga kepribadiannya. Bila ia merasa ada sesuatu yang dapat menyebabkan kepribadiannya melebur, atau pendapatnya tidak diterima, maka ia berpaling dengan berlindung di balik tirai tebal dalih dan alasan.
QS An-Nisa: 120
QS Ali Imran: 175
QS Al-Fath: 11
QS Al-Jumu’ah: 6-8
QS Al-Ankabut: 10-11
QS Ali Imran: 168
“Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, sedangkan neraka dikelilingi dengan syahwat (hal-hal yang menyenangkan).” (HR Muslim, Ahmad, dan At-Turmudzi)
“Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang yang semisal dan seterusnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya, bila ia kuat memegang agamanya, maka ujiannya amat berat, dan bila ada kelemahan dalam memegang agamanya, maka akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Cobaan akan selalu datang kepada hamba hingga ia dibiarkan berjalan di atas bumi dengan tidak membawa dosa.” (HR Bukhari , Ahmad, dan At-Turmudzi)
“Orang yang paling berat ujiannya di dunia ini adalah nabi atau kekasih pilihan Allah.” (HR Bukhari)
“Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shalih. Sungguh salah seorang mereka diuji dengan kefakiran hingga tidak memiliki apa-apa kecuali selembar pakaian yang dipotong lalu dipakai, dan ada di antara mereka diuji dengan kutu kepala yang menyebabkan kematiannya. Sungguh salah seorang dari mereka merasa lebih bergembira mendapatkan ujian daripada mendapatkan anugrah (pemberian).” (HR Ibnu Majah)
“Celakalah hamba dinar, dirham, dan pakaian. Celaka dan sengsaralah ia. Bila ia tertusuk duri, maka semoga tidak akan tercabut.” (HR Ibnu Majah)
“Celakalah hamba istri.” (HR Bukhari)
3. Sikap Ekstrem dan Berlebihan
Sikap ekstrem dan berlebihan dapat menjadi penyebab bergugurannya sebagian orang di jalan dakwah. Orang yang membebani diri melebihi kemampuannya, tidak menerima sikap moderat, dan bersikeras untuk berlebih-lebihan dalam segala hal, pasti akan mengalami frustasi kejiwaan dan keimanan.
4. Sikap Mempermudah dan Menganggap Enteng
Dari ‘Aisyah ra. Rasulullah saw. bersabda, “Wahai ‘Aisyah, jauhilah olehmu dosa-dosa yang dianggap kecil, sebab ia punya penuntut dari Allah swt.” (HR Nasa’i dan lainnya)
Dari Anas ra. ia berkata, “Sesungguhnya kamu melakukan beberapa amalan (dosa) yang menurut pandangan mata kamu lebih halus daripada rambut, sedang kami pada masa Rasulullah saw. menganggapnya sebagai hal-hal yang membinasakan.” (HR Bukhari)
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra., Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah oleh kalian dosa-dosa yang dianggap kecil, sebab ia akan berhimpun hingga membinasakan pelakunya.” Rasulullah saw. mengumpamakan dengan suatu kaum yang singgah di tanah lapang, lantas juru masaknya datang, maka orang-orang datang dengan membawa sebatang kayu, seorang lagi datang dengan membawa sebatang kayu hingga terkumpul banyak, lalu mereka membakarnya, dan dapat memasakkan sesuatu yang dilempar di dalamnya.” (HR Ahmad dan Ath-Thabrani)
5. Ghurur dan Senang Tampil
Faktor lain yang menjadi penyebab berjatuhan di jalan dakwah adalah penyakit ghurur (tertipu oleh diri sendiri) dan senang menampilkan diri. Penyakit batin ini sangat berbahaya, karena dapat menghancurkan jiwa para aktivis dakwah, merusak amal, menghapus pahala dan mencelakakan mereka di akhirat.
“Sesungguhnya apa yang aku takutkan terhadap ummatku adalah syirik kepada Allah swt., saya tidak mengatakan mereka menyembah matahari, atau bulan atau berhala, akan tetapi amal-amal yang ditujukan kepada selain karena Allah swt, dan syahwat yang tersembunyi.” (HR Ibnu Majah)
(QS Al-Qashash : 83)
“Tiga perkara yang membinasakan: bakhil yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap diri sendiri.” (HR Ath-Thabrani)
“Andaikata kamu tidak berbuat dosa, maka aku khawatir terhadap kamu apa yang lebih besar daripada itu, yaitu sifat ujub.” (HR Ibnu Hibban dan Baihaqi, sedang Bukhari mengingkarinya.)
‘Aisyah pernah ditanya, “Kapan seseorang dianggap berbuat jahat?” Ia menjawab, “Bila menyangka telah berbuat baik.”. Mutharrif pernah berkata, “Saya tidur semalam, dan bangun pada pagi hari dalam keadaan menyesal, lebih aku cintai daripada aku bangun malam (sholat malam) dan di pagi harinya aku merasa bangga (ujub).”
6. Cemburu terhadap Orang Lain
Di antara sebab yang membuat seseorang terjatuh di jalan dakwah adalah cemburu buta terhadap orang lain. Terutama, terhadap orang-orang yang terdepan, terpandang, sukses, dan yang dikaruniai keahlian yang tidak dimiliki orang lain. Setiap jama’ah menghimpun barisannya dengan beragam jenis orang yang memiliki tingkat keahlian berbeda. Begitu juga dengan keragaman kepribadian, kejiwaan, kefanatikan dan pemikiran.
(QS Al-Maidah: 27-30)
(QS An-Nisa : 54)
“Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah olehmu prasangka (buruk), karena sesungguhnya prasangka (buruk) itu perkataan yang paling dusta. Dan janganlah kamu mengorek-ngorek berita, janganlah kamu memata-matai, janganlah kamu saling bersaing, janganlah kamu saling mendengki, janganlah kamu saling marah, dan janganlah kamu saling membelakangi (membenci). Jadilah kamu hamba Allah swt yang bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah swt. Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh membiarkannya (tidak menolongnya), dan tidak boleh menghinakannya. Taqwa itu di sini, taqwa itu di sini (beliau mengisyaratkan ke dadanya). Cukuplah dosa seseorang kalau dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, kehormatannya dan hartanya.” (HR Bukhari dan Muslim)
7. Fitnah Senjata
Sikap ekstrem yang paling berbahaya adalah yang berkaitan dengan penggunaan kekuatan. Karena hal itu dapat menimbulkan perkara yang tidak hanya menimpa personal, tetapi juga dapat menimpa sebuah wadah pergerakan secara keseluruhan.
Sebab timbulnya fitnah senjata:
Pertama, tidak jelasnya tujuan pembentukan kekuatan
Kedua, tidak memenuhi syarat penggunaan kekuatan
A. Mengoptimalkan penggunaan sarana-sarana lain terlebih dahulu, sehingga penggunaan kekuatan fisik menjadi penyelesaian akhir
B. Menyerahkan persoalan pada kebijakan imam dan jama’atul muslimin (khilafah Islam), bukan pada perorangan atau masyarakat umum
C. Tidak mengundang kerusakan atau fitnah
D. Tidak melanggar kebijakan syari’at
E. Disesuaikan dengan skala prioritas
F. Dipersiapkan dengan benar dan matang
G. Tidak gegabah dan reaksioner
H. Tidak menjerumuskan umat Islam dalam pertarungan yang tidak seimbang
Ketiga: Sebab-sebab Eksternal
1. Tekanan TribulasiTribulasi atau penyiksaan fisik dalam kehidupan dakwah dan da’inya adalah alat pembersih paling efektif dan penguji paling berhasil. Berapa banyak orang yang menghilang dari panggung amal Islami setelah mendapat siksaan fisik. Padahal, sebelumnya mereka termasuk orang-orang yang paling bersemangat. (QS Al-Ankabut: 1-3), (QS Muhammad: 31)
Allah swt. juga menjelaskan tipe-tipe manusia dalam menghadapi tribulasi. Di antara mereka ada yang teguh dan sabar karena mengharap pahala dari Allah (QS Ali Imran: 173), (QS Al-Ahzab: 22-23), dan di antara mereka juga ada yang lemah, tidak mampu bertahan, dan akhirnya gugur dan menghilang dari kancah pertarungan (QS Al-Ankabut: 10-11).
2. Tekanan Keluarga
Salah satu tekanan yang dihadapi oleh para aktivis perjuangan Islam, dan terkadang mengakibatkan gugurnya sebagian dari mereka adalah keluarga dan kerabat: ayah, ibu, istri, anak dan lainnya. Sedikit sekali aktivis Muslim yang bisa terbebas dari tekanan keluarga. Sebab, secara umum keluarga mengkhawatirkan kalau anak-anak mereka tertimpa derita seperti yang sedang menimpa para da’i, mujahid (pejuang) dan para aktivis di sepanjang masa. (QS At-Taubah: 24), (QS Maryam: 41-46).
3. Tekanan Lingkungan
Faktor lain yang menjadi penyebab bergugurannya sebagian aktivis dari pentas dakwah adalah tekanan lingkungan. Seorang muslim terkadang tumbuh dalam lingkungan yang komitmen terhadap Islam. Namun kemudian, karena studi atau pekerjaan berpindah ke lingkungan lain, di mana pengaruh-pengaruh negatif lebih banyak dan daya tarik jahiliyah lebih kuat, ia pun mudah terpengaruh. Di sinilah pertarungan mulai berkecamuk, mungkin ia mampu bertahan dan menang atau mungkin kalah dan terbawa arus.
Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang dapat dikalahkan oleh tekanan lingkungan sangat banyak. Antara lain,
- Mungkin dasar pembinaannya tidak benar. Misalnya ia masih menyimpan keraguan dalam bidang aqidah atau menyembunyikan penyimpangan perilakunya.
- Mungkin komitmen ketika berada di lingkungannya didorong rasa malu, taklid, dan ikut-ikutan, bukan berdasarkan kesadaran, kepahaman, dan keimanan. Karena itu, ketika berpindah ke lingkungan lain, pudarlah komitmennya bersamaan dengan hilangnya faktor-faktor yang membuatnya komitmen; rasa malu, taklid, dan ikut-ikutan.
- Mungkin di lingkungan keduanya, ia meninggalkan dunia dakwah dan para aktivisnya, lalu bergabung dengan lingkungan jahiliyah dan bergaul dengan teman-teman yang buruk. Sikap ini sangat berbahaya, membawa sial dan dapat mengakibatkan berguguran, bila tidak mendapat pertolongan dan pemeliharaan dari Allah swt.
Gerakan-gerakan destruktif selalu ada pada setiap waktu dan tempat. Faktor yang bisa menjadikan para aktivis Islam berguguran di jalan dakwah ini, selalu muncul dan bekerja keras menebarkan keraguan. Ibarat palu godam yang dipersiapkan untuk menghantam gerakan Islam dan menghancurkannya dengan mengatasnamakan Islam.
5. Tekanan dari Figuritas
Salah satu penyebab bergugurannya aktivis di jalan dakwah adalah figuritas dan segala kaitannya yang tercakup dalam penyakit ujub (bangga diri), ghurur (tertipu), terlalu mencintai diri sendiri, sombong dan egois. Penyakit inilah yang menyebabkan kebinasaan iblis yang membanggakan dosanya. (QS Al-A’raf: 12)
Wallahu ‘alam bishshawwab
Makna Hidupmu ditentukan Sepetak Waktu
Senja itu, masih selalu saja terkenang dalam ingatan, sebuah senja
yang tenang dengan bau segar rerumputan. Di hadapan sebuah kolam dengan
hamparan teratai bermekaran, beberapa pemuda dengan gagah berlarian;
tergopoh-gopoh membawa tas penuh makanan; kemudian duduk dan membentuk
sebuah lingkaran.
“Tidak akan tergelincir dua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan, dan tentang ilmunya apa yang diperbuatkan dengan ilmunya tersebut”. (HR. Al-Bazzar dan Al-Thabrani).
Masa Muda“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Pemimpin yang adil. Pemuda yang menyibukkan diri dengan ibadah kepada Rabbnya. Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid. Dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah. Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’. Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.” (HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712)
Masa muda menjadi sorotan tersendiri dalam Islam dan ajarannya, terbukti ketika, meskipun Allah swt telah bertanya kepada anak-anak Adam tentang usianya, Allah masih juga secara khusus menanyakan tentang masa muda. Hal ini dapat kita pahami dengan mudah melihat adanya potensi yang luar biasa dari masa muda. Pada masa inilah seorang muslim dan manusia manapun yang ada di dunia, membentuk karakter dan jati dirinya. Akan sulit bagi seseorang yang terbiasa bermalas-malasan pada usia mudanya, untuk menjadi pekerja keras ketika mereka tua. Juga tidak mudah bagi mereka yang terbiasa bekerja keras dan belajar pada masa muda, jika harus menjadi seorang pemalas yang kehilangan gairah pada masa tua.
Masa muda, bisa dibilang, adalah sepenggal usia dalam sebuah perjalanan kehidupan setiap manusia yang, nyaris menentukan segalanya. Bersahabatlah kita pada masa muda dengan orang-orang yang tidak dapat memberikan manfaat dunia akhirat bagi kita, mungkin setidaknya kita dapat bertahan untuk tidak terjerumus pada keburukan, tapi kelak kita akan menyesal karena seharusnya dapat mengumpulkan modal kebaikan lebih banyak untuk kita bagi-bagikan.
Berleha-lehalah kita pada masa muda dengan kesenangan-kesenangan, mungkin kelak kita masih akan mampu menghadirkan kesenangan yang sama pada masa tua, tapi bisa jadi kita akan terjebak pada pertanyaan-pertanyaan tentang tujuan hidup dan kebingungan akan makna kebahagiaan yang sejati. Ya, kesenangan tidak akan pernah dapat memuaskan jiwa manusia, yang manusia cari adalah ketenangan, dan bekerja keras mencari makna kebahagiaan pada masa muda, dapat membantu menghadirkan ketenangan tersebut.
Sebuah perbedaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang cukup lama, selalu menghadirkan perbedaan-perbedaan besar. Bijak adalah berhati-hati dan selalu mengevaluasi apa yang kita lakukan pada masa muda kita. Tidak perlu dijalani dengan terlalu kaku, sesekali refreshment dan istirahat juga diperlukan. Tapi ingatlah untuk selalu memaksimalkan manfaat, sebab selain itu berpengaruh pada masa depan kita serta masa depan ummat, ternyata masa muda kita juga kelak akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT.
Keep Spirit..
Pada sebuah tanah lapang yang melandai, di kaki
perbukitan yang ramai oleh kabut, hawa sejuk, dan sesekali, rintik
gerimis pembawa harapan, serta gumpal awan yang menahankan sebuah
kerinduan, tawa sesekali terdengar berderai dari lidah mereka yang
sesekali berceloteh, berbagi makanan. Tenda-tenda nampak rapih
didirikan. Kemudian sebuah antrian tercipta menghadirkan sebuah
pemandangan yang menenangkan luar biasa, tentang insan-insan yang
mematutkan pada wajah mereka cahaya-cahaya, yang terpancar dari basuhan
air wudhu, dan keinginan untuk bersujud di hadapan Rabb yang selalu
memberi mereka Rezeki dan Kebaikan tiada habisnya. Rabb Yang menciptakan
barisan gunung-gunung yang bertasbih, langit yang meluas, dan semesta
kasih. Rabb Yang, tanda-tandanya selalu terasa oleh mereka yang hatinya
tulus dan bersih.
Tibalah waktunya muda-mudi itu berbaris rapih,
duduk membentuk shaf-shaf yang membuat malaikat manapun cemburu lirih;
betapa tidak? Di saat belia seusia mereka menghabiskan waktu berbelanja
di mal-mal dan tempat hiburan, atau menghabiskan waktu mendengarkan
nyanyian, tertawa karena permainan-permainan, sekelompok muda-mudi ini
bertaqarub, mendekatkan diri mereka pada Allah dengan mentafakuri ayat-ayat ciptaanNya. Kemudian bersabar mengejar ilmuNya.
“Tidak akan tergelincir dua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan, dan tentang ilmunya apa yang diperbuatkan dengan ilmunya tersebut”. (HR. Al-Bazzar dan Al-Thabrani).
Masa Muda“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Pemimpin yang adil. Pemuda yang menyibukkan diri dengan ibadah kepada Rabbnya. Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid. Dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah. Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’. Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.” (HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712)
Masa muda menjadi sorotan tersendiri dalam Islam dan ajarannya, terbukti ketika, meskipun Allah swt telah bertanya kepada anak-anak Adam tentang usianya, Allah masih juga secara khusus menanyakan tentang masa muda. Hal ini dapat kita pahami dengan mudah melihat adanya potensi yang luar biasa dari masa muda. Pada masa inilah seorang muslim dan manusia manapun yang ada di dunia, membentuk karakter dan jati dirinya. Akan sulit bagi seseorang yang terbiasa bermalas-malasan pada usia mudanya, untuk menjadi pekerja keras ketika mereka tua. Juga tidak mudah bagi mereka yang terbiasa bekerja keras dan belajar pada masa muda, jika harus menjadi seorang pemalas yang kehilangan gairah pada masa tua.
Masa muda, bisa dibilang, adalah sepenggal usia dalam sebuah perjalanan kehidupan setiap manusia yang, nyaris menentukan segalanya. Bersahabatlah kita pada masa muda dengan orang-orang yang tidak dapat memberikan manfaat dunia akhirat bagi kita, mungkin setidaknya kita dapat bertahan untuk tidak terjerumus pada keburukan, tapi kelak kita akan menyesal karena seharusnya dapat mengumpulkan modal kebaikan lebih banyak untuk kita bagi-bagikan.
Berleha-lehalah kita pada masa muda dengan kesenangan-kesenangan, mungkin kelak kita masih akan mampu menghadirkan kesenangan yang sama pada masa tua, tapi bisa jadi kita akan terjebak pada pertanyaan-pertanyaan tentang tujuan hidup dan kebingungan akan makna kebahagiaan yang sejati. Ya, kesenangan tidak akan pernah dapat memuaskan jiwa manusia, yang manusia cari adalah ketenangan, dan bekerja keras mencari makna kebahagiaan pada masa muda, dapat membantu menghadirkan ketenangan tersebut.
Sebuah perbedaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang cukup lama, selalu menghadirkan perbedaan-perbedaan besar. Bijak adalah berhati-hati dan selalu mengevaluasi apa yang kita lakukan pada masa muda kita. Tidak perlu dijalani dengan terlalu kaku, sesekali refreshment dan istirahat juga diperlukan. Tapi ingatlah untuk selalu memaksimalkan manfaat, sebab selain itu berpengaruh pada masa depan kita serta masa depan ummat, ternyata masa muda kita juga kelak akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT.
Keep Spirit..
Sabtu, 29 Juni 2013
Sebab Hidup tak Mengenal Siaran Tunda
Saudaraku, hidup ini hanya sekali. Maka, buatlah yang sekali itu
menjadi “sesuatu”. Waktu dan umur yang kita lewati, sekali berlalu, tak
pernah kembali. Ia pergi dengan segenap catatan yang menggoresnya.
Berbuatlah dalam kebajikan, sekecil apapun, Semoga kebaikan yang kecil
itu menambah berat amal timbangan kebaikan kita di akhirat kelak.
Sebab
hidup tak mengenal siaran tunda, maka bekerjalah dalam kesungguhan dan
keikhlasan. Sekali waktu yang telah berlalu tak akan pernah kembali.
Setiap detik yang bergeser dari jam tangan kita telah menjadi sesuatu
yang lampau. Ia pergi dan kita masih di sini, dengan sejuta persoalan
yang membelenggu diri kita.
Renungan..Untukmu Kader Dakwah
Kepada kalian yang mempertautkan hati di jalan dakwah.Kepada kalian yang menjalin ikatan kasih dalam indahnya ukhuwah.
Kepada kalian yang merindukan tegaknya syari’ah.
Kepada kalian, ana tulis sebuah surat cinta.
Karena bersama kalian ku temukan cinta di jalan dakwah.
Kasih dalam jihad fi sabilillah.
Uhibbukum FILLAH...LILLAH….
Teruntuk para aktivis dakwah,
Dakwah berdiri di atas aqidah yang kokoh, ibadah dan ilmu yang shohih, niat yang lurus, dan iltizam yang kuat
Dakwah adalah proyek besar membangun peradaban umat
Dakwah adalah jalan yang sukar dan terjal
Dakwah adalah jalan yang sangat panjang
Dakwah penuh dengan gangguan, cobaan, dan ujian
Dakwah bukan jalan yang ditaburi bunga dan wewangi kesturi
Dakwah butuh komitmen yang kuat dari pengembannya
Dakwah memerlukan kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil, tanpa putus asa, dan putus harapan
Dakwah butuh pengorbanan dan kesungguhan
Dakwah butuh kesabaran dan keistiqomahan
Teruntuk para pejuang,
Sudah teguhkah azzam yang kau pancang ???
Benarkah perjuanganmu karena ALLAH ???
Mundurlah, dan luruskan kembali niatmu, jika:
Nafsu masih merajaimu
Kilauan permata masih menyilaukanmu
Kesenangan dunia masih melenakanmu
Syaithan masih bersarang di dadamu dan menjadi teman setiamu
Kenikmatan semu masih membuaimu dan menutup mata batinmu
Percayalah, semua itu adalah keindahan sesaat yang akan menggoyahkan tekadmu. Allah Azza Wa Jalla sengaja ciptakan itu sebagai ujian bagimu!
Berbahagialah jika kau menjadikan Allah ‘Azza wa Jalla sebagai tujuan akhirmu, puncak kerinduanmu. Dan jadilah antum sebagai orang-orang yang beruntung!
Untuk jiwa-jiwa yang merindukan kemenangan
Untuk setiap diri yang mengaku sholih
Untuk mereka yang mengajak kepada jalan yang lurus
Untuk mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan kebaikan
Dakwah berdiri di atas aqidah yang kokoh, ibadah dan ilmu yang shohih, niat yang lurus, dan iltizam yang kuat
Dakwah adalah proyek besar membangun peradaban umat
Dakwah adalah jalan yang sukar dan terjal
Dakwah adalah jalan yang sangat panjang
Dakwah penuh dengan gangguan, cobaan, dan ujian
Dakwah bukan jalan yang ditaburi bunga dan wewangi kesturi
Dakwah butuh komitmen yang kuat dari pengembannya
Dakwah memerlukan kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil, tanpa putus asa, dan putus harapan
Dakwah butuh pengorbanan dan kesungguhan
Dakwah butuh kesabaran dan keistiqomahan
Teruntuk para pejuang,
Sudah teguhkah azzam yang kau pancang ???
Benarkah perjuanganmu karena ALLAH ???
Mundurlah, dan luruskan kembali niatmu, jika:
Nafsu masih merajaimu
Kilauan permata masih menyilaukanmu
Kesenangan dunia masih melenakanmu
Syaithan masih bersarang di dadamu dan menjadi teman setiamu
Kenikmatan semu masih membuaimu dan menutup mata batinmu
Percayalah, semua itu adalah keindahan sesaat yang akan menggoyahkan tekadmu. Allah Azza Wa Jalla sengaja ciptakan itu sebagai ujian bagimu!
Berbahagialah jika kau menjadikan Allah ‘Azza wa Jalla sebagai tujuan akhirmu, puncak kerinduanmu. Dan jadilah antum sebagai orang-orang yang beruntung!
Untuk jiwa-jiwa yang merindukan kemenangan
Untuk setiap diri yang mengaku sholih
Untuk mereka yang mengajak kepada jalan yang lurus
Untuk mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan kebaikan
Ketika
jalan yang kalian tempuh begitu sukar, ketika amanah yang kalian emban
begitu berat, ketika tanggung jawab yang kalian pikul begitu banyak,
terkadang kalian lupa dengan azzam yang kalian tanam sebelumnya, kalian
lalai dan terlena. Kalian lupa membersihkannya, membidiknya,
mengontrolnya, memuhasabahinya, dan lupa untuk meluruskannya kembali.
Apakah dunia yang fana lebih kau cintai daripada kampung akhirat yang
kekal abadi?
Duhai para pecinta ALLAH
Duhai yang meneladani Muhammad Rasulullah
Duhai yang menjadikan Al-Quran sebagai pedomannya
Duhai yang berjihad di jalanNya dengan sebenar-benarnya jihad
Duhai yang memburu syahid sebagai cita-cita tertingginya
Dakwah telah memanggilmu!
Umat menunggu pencerahan darimu!
Letih sudah mata ini menyaksikan kemaksiatan merajalela.
Lelah sudah kaki melangkah, karena setiap jengkal yang dipijak, bumi merasa terdzolimi oleh manusia-manusia tak beradab.
Lunglai tubuh ini ketika mendapati hukum-hukum Allah diganti dengan hukum-hukum makhluk yang hanya menebar kerusakan.
Perih hati ini ketika menemukan thoghut-thoghut bersarang di dalamnya.
Menangis batin ini menyaksikan saudara-saudara seiman, seislam, dan seaqidah saling caci, saling menyalahkan, saling bermusuhan. Lalu ke mana perginya ukhuwah?
Duhai para pecinta ALLAH
Duhai yang meneladani Muhammad Rasulullah
Duhai yang menjadikan Al-Quran sebagai pedomannya
Duhai yang berjihad di jalanNya dengan sebenar-benarnya jihad
Duhai yang memburu syahid sebagai cita-cita tertingginya
Dakwah telah memanggilmu!
Umat menunggu pencerahan darimu!
Letih sudah mata ini menyaksikan kemaksiatan merajalela.
Lelah sudah kaki melangkah, karena setiap jengkal yang dipijak, bumi merasa terdzolimi oleh manusia-manusia tak beradab.
Lunglai tubuh ini ketika mendapati hukum-hukum Allah diganti dengan hukum-hukum makhluk yang hanya menebar kerusakan.
Perih hati ini ketika menemukan thoghut-thoghut bersarang di dalamnya.
Menangis batin ini menyaksikan saudara-saudara seiman, seislam, dan seaqidah saling caci, saling menyalahkan, saling bermusuhan. Lalu ke mana perginya ukhuwah?
Apakah ukhuwah hanya berlaku pada segolongan atau sekelompok umat yang bernaung dalam satu jamaa�ah?
Wahai yang mengaku diri aktivis haroki,
Wahai yang mengaku diri aktivis haroki,
Sudah benarkah aktivitas yang antum jalani dalam menyeru manusia ke jalan ALLAH?
Serulah dirimu sebelum kau menyeru orang lain.
Sudahkah ghiroh yang kau miliki kau poles dengan ilmu yang shohih? Karena semangat saja belum cukup! Teruslah tholabul�ilm..
Sudah efektifkah syuro-syuro antum?
Apa yang ada dalam syuro hanya obrolan sia-sia yang mengundang tawa?
Senda gurau tak bermakna?
Tak ada lagi kesungguhan dan fokus menyelesaikan masalah?
Terlalu banyak basa-basi dan kata-kata tak berarti?
Bagaimana cara antum merumuskan, mengatur strategi jitu, menyusun konsep, menetapkan target, men-SWOT, dan lain sebagainya, sudah syar�ikah?
Bagaimana cara antum merumuskan, mengatur strategi jitu, menyusun konsep, menetapkan target, men-SWOT, dan lain sebagainya, sudah syar�ikah?
Sudahkah antum pantau terus niatmu agar tetap lurus di awal, di tengah, sampai ke penghujungnya?
Di
sini niat dan tujuan harus selalu di luruskan. Bukan demi keegoisan
masing-masing individu atau jama�ah, tapi demi tegaknya Dienullah.
Lalu, bagaimana kenyataannya di lapangan?
Lalu, bagaimana kenyataannya di lapangan?
Teknis yang telah antum usahakan bersama?
Apakah ada titik-titik noda di dalamnya?
Hijab yang semakin longgar, virus merah jambu yang semakin menyebar, ukhuwah yang kian memudar, barisan yang terpencar. Atau mungkin sms-sms taujih yang menyebar di kalangan ikhwan dan akhowat yang kemudian mengotori hati-hati mereka, menodai niat tulus mereka. Dari kata-katanya, ada rasa kagum pada ghirohnya, salut pada keteguhannya, simpatik pada ke-haroki-annya, dan tersanjung pada perhatiannya. Benih-benih inilah yang akan tumbuh bersemi di hati dan mengefek pada amal sehari-hari.
Mungkin saja fenomena-fenomena itu yang mengurangi keberkahan dakwah sehingga ALLAH �Azza wa Jalla belum mau menghadiahkan kemenangan itu pada kita! Karena di samping menyeru kepada kebenaran, tentara-tentara Allah itu juga menggandeng kemaksiatan, apapun bentuknya!
Akhi wa Ukhti ....
Di mana antum berada saat saudara-saudara antum di belahan bumi yang lain sedang megangkat senjata, menghadang tank-tank zionis, melempar bom dan batu kerikil di medan intifadhah?
Hijab yang semakin longgar, virus merah jambu yang semakin menyebar, ukhuwah yang kian memudar, barisan yang terpencar. Atau mungkin sms-sms taujih yang menyebar di kalangan ikhwan dan akhowat yang kemudian mengotori hati-hati mereka, menodai niat tulus mereka. Dari kata-katanya, ada rasa kagum pada ghirohnya, salut pada keteguhannya, simpatik pada ke-haroki-annya, dan tersanjung pada perhatiannya. Benih-benih inilah yang akan tumbuh bersemi di hati dan mengefek pada amal sehari-hari.
Mungkin saja fenomena-fenomena itu yang mengurangi keberkahan dakwah sehingga ALLAH �Azza wa Jalla belum mau menghadiahkan kemenangan itu pada kita! Karena di samping menyeru kepada kebenaran, tentara-tentara Allah itu juga menggandeng kemaksiatan, apapun bentuknya!
Akhi wa Ukhti ....
Di mana antum berada saat saudara-saudara antum di belahan bumi yang lain sedang megangkat senjata, menghadang tank-tank zionis, melempar bom dan batu kerikil di medan intifadhah?
Di mana antum saat mereka berburu syahid? Yang mereka pertaruhkan adalah nyawa, akhi! Nyawa, ukhti! NYAWA!
Jika
darah tak mampu antum alirkan, maka di mana saat saudara-saudara antum
sedang bermandi peluh menyiapkan kegiatan-kegiatan dakwah, acara-acara
syiar Islam, daurah, bakti sosial, dan seabrek agenda-agenda dakwah yang
lain.
Di mana antum saat yang lain sedang membuat publikasi, mendesain dekorasi, menyediakan konsumsi, atau menyebar proposal, mencari dana ke sana ke mari? Semua demi kelancaran acara. Demi syiar Islam! Agar dakwah terus menggaung di berbagai penjuru. Agar Islam tetap berdetak di jantung masyarakat. Masyarakat yang kini telah hilang jati dirinya sebagai hamba ALLAH. Masyarakat yang kini malu mengaku sebagai Muslim. Masyarakat yang kini phobi dengan syari�at Islam. Ya, masyarakat itu kini ada di sekeliling kita. Mereka hadir di tengah-tengah kita. Mereka adalah objek dakwah kita!
Wahai yang masih memiliki hati tempat bersemayamnya iman, apakah ia tidak lagi bergetar kala ayat-ayatNya diperdengarkan?
Di mana antum saat yang lain sedang membuat publikasi, mendesain dekorasi, menyediakan konsumsi, atau menyebar proposal, mencari dana ke sana ke mari? Semua demi kelancaran acara. Demi syiar Islam! Agar dakwah terus menggaung di berbagai penjuru. Agar Islam tetap berdetak di jantung masyarakat. Masyarakat yang kini telah hilang jati dirinya sebagai hamba ALLAH. Masyarakat yang kini malu mengaku sebagai Muslim. Masyarakat yang kini phobi dengan syari�at Islam. Ya, masyarakat itu kini ada di sekeliling kita. Mereka hadir di tengah-tengah kita. Mereka adalah objek dakwah kita!
Wahai yang masih memiliki hati tempat bersemayamnya iman, apakah ia tidak lagi bergetar kala ayat-ayatNya diperdengarkan?
Apakah ia tak lagi geram ketika melihat kemungkaran terjadi di hadapannya?
Wahai yang memiliki mata yang dengannya antum bias melihat indah dunia, apakah ia tak lagi menangis saat dikabarkan tentang azab, ancaman, dan siksaan?
Wahai yang memiliki mata yang dengannya antum bias melihat indah dunia, apakah ia tak lagi menangis saat dikabarkan tentang azab, ancaman, dan siksaan?
Apakah ia tak lagi meneteskan cairan hangatnya ketika bangun di tengah malam dalam sujud-sujud panjang?
Apakah
ia tak lagi mengalirkan butiran-butiran beningnya ketika melihat
saudaranya yang seaqidah didzolimi, dirampas hak-haknya, dilecehkan dan
di aniaya, bahkan dibunuh karena mempertahankan diennya?
Ke mana kalian wahai aktivis dakwah?
Di mana kini antum berada?
Sedang bersantai ria di kamar sambil mendengar nasyid kesukaan?
Terbuai di atas kasur dengan bantal empuk dan selimut tebal?
Bersenda gurau bersama kawan-kawan?
Membaca novel-novel picisan?
Atau…sedang melamun memikirkan sang pujaan?
Kepada kalian yang sedang menanti hadirnya belahan jiwa…
Masih perlukah romantisme di saat nasib umat sedang berada di ujung tombak?
Masih perlukah gejolak asmara tumbuh dan bersemi di jiwa?
Ke mana kalian wahai aktivis dakwah?
Di mana kini antum berada?
Sedang bersantai ria di kamar sambil mendengar nasyid kesukaan?
Terbuai di atas kasur dengan bantal empuk dan selimut tebal?
Bersenda gurau bersama kawan-kawan?
Membaca novel-novel picisan?
Atau…sedang melamun memikirkan sang pujaan?
Kepada kalian yang sedang menanti hadirnya belahan jiwa…
Masih perlukah romantisme di saat nasib umat sedang berada di ujung tombak?
Masih perlukah gejolak asmara tumbuh dan bersemi di jiwa?
Membuat
otak sibuk memikirkannya, membuat setiap lisan tak henti menyebut
namanya, membuat setiap hati tak tenang, resah, dan gelisah menunggu
hadirnya.
Masih perlukah virus merah jambu menjangkiti rongga-rongga hatimu? Melemahkan sendi-sendimu, menggoyahkan benteng pertahananmu, merapuhkan tekadmu, menenggelamkanmu dalam samudera cinta mengharu biru.
Masih perlukah semua perasaan itu kau pelihara, kau tanam, kau pupuk, kau siram, dan kau biarkan tumbuh subur dalam hatimu?
Wahai aktivis dakwah, sungguh perasaan itu fitrah! Kau pun sering berdalih bahwa itu adalah anugerah. Sesuatu yang tak bisa dinafikan keberadaanya, tak bisa dielakkan kehadirannya. Cinta memang datang tanpa diundang. Cinta memang tak mampu untuk memilih, kepada siapa dia ingin hinggap dan bersemi. Dia bisa menghuni hati siapaun juga, tak terkecuali aktivis dakwah! Sekali lagi, cinta itu fitrah!
Namun wahai ikhwah yang mewarisi tongkat estafeta dakwah, bisa jadi perasaanmu itu menghalangimu untuk mengoptimalkan kerja dakwahmu.
Bisa jadi perasaanmu itu mengganggu aktivitas muliamu.
Bisa jadi perasaanmu itu mengusik hatimu untuk mundur dari jalan dakwah yang kau tempuh.
Bisa jadi perasaanmu itu membelenggumu dalam cinta semu.
Dan yang terparah, bisa jadi perasaanmu itu menggeser posisi Rabbmu dalam tangga cintamu.
Masih perlukah virus merah jambu menjangkiti rongga-rongga hatimu? Melemahkan sendi-sendimu, menggoyahkan benteng pertahananmu, merapuhkan tekadmu, menenggelamkanmu dalam samudera cinta mengharu biru.
Masih perlukah semua perasaan itu kau pelihara, kau tanam, kau pupuk, kau siram, dan kau biarkan tumbuh subur dalam hatimu?
Wahai aktivis dakwah, sungguh perasaan itu fitrah! Kau pun sering berdalih bahwa itu adalah anugerah. Sesuatu yang tak bisa dinafikan keberadaanya, tak bisa dielakkan kehadirannya. Cinta memang datang tanpa diundang. Cinta memang tak mampu untuk memilih, kepada siapa dia ingin hinggap dan bersemi. Dia bisa menghuni hati siapaun juga, tak terkecuali aktivis dakwah! Sekali lagi, cinta itu fitrah!
Namun wahai ikhwah yang mewarisi tongkat estafeta dakwah, bisa jadi perasaanmu itu menghalangimu untuk mengoptimalkan kerja dakwahmu.
Bisa jadi perasaanmu itu mengganggu aktivitas muliamu.
Bisa jadi perasaanmu itu mengusik hatimu untuk mundur dari jalan dakwah yang kau tempuh.
Bisa jadi perasaanmu itu membelenggumu dalam cinta semu.
Dan yang terparah, bisa jadi perasaanmu itu menggeser posisi Rabbmu dalam tangga cintamu.
Tanpa kau sadari!
Yang kau ingat hanya dia!
Yang kau ingat hanya dia!
Yang terbayang adalah wajahnya.
Yang
kau pikirkan kala dia menjadi partner dakwahmu seumur hidup, membangun
pernikahan haroki, menemanimu membina keluarga dakwah dan menjadikannya
abi/ummi dari jundi-jundi rabbani…ah indahnya!
Yang ada di sholatmu, dia.
Yang ada di tilawahmu, dia.
Yang ada di bacaan ma’tsuratmu, dia. Yang ada di benakmu, dia.
Yang ada di aktivitasmu, dia. Hanya ada dia, dia, dia, dan dia!
Benarkah itu wahai saudaraku?
Mari kita jawab dengan serentak....na�udzubillahi min dzaalik!
Ke mana cinta ALLAH dan RasulNya kau tempatkan?
Di mana dakwah dan jihad kau posisikan?
Astaghfirullahal �adziim...
Dakwah hanya dimenangkan oleh jiwa-jiwa bermental baja, bertekad besi, berhati ikhlas. Orang-orang beriman yang mengatasi persoalan dengan ilmu yang shohih dan memberi teladan dengan amal.
Perjalanan panjang ini membutuhkan mujahid/ah perkasa yang mampu melihat rintangan sebagai tantangan, yang melihat harapan di balik ujian, dan menemukan peluang di sekeliling jebakan.
Ke mana militansi yang antum miliki?
Ke mana ghiroh membara yang antum punya?
Benarkah itu wahai saudaraku?
Mari kita jawab dengan serentak....na�udzubillahi min dzaalik!
Ke mana cinta ALLAH dan RasulNya kau tempatkan?
Di mana dakwah dan jihad kau posisikan?
Astaghfirullahal �adziim...
Dakwah hanya dimenangkan oleh jiwa-jiwa bermental baja, bertekad besi, berhati ikhlas. Orang-orang beriman yang mengatasi persoalan dengan ilmu yang shohih dan memberi teladan dengan amal.
Perjalanan panjang ini membutuhkan mujahid/ah perkasa yang mampu melihat rintangan sebagai tantangan, yang melihat harapan di balik ujian, dan menemukan peluang di sekeliling jebakan.
Ke mana militansi yang antum miliki?
Ke mana ghiroh membara yang antum punya?
Dakwah TIDAK BUTUH aktivis-aktivis MANJA!
Dakwah TIDAK BISA DIPIKUL oleh orang-orang CENGENG, MENTAL-MENTAL CIUT, NYALI YANG SETENGAH-SETENGAH, dan GERAK YANG LAMBAN!
Barisan dakwah harus disterilkan dari prajurit-prajurit yang memiliki sifat-sifat seperti di atas (manja, cengeng, mental ciut, nyali setengah-setengah, ragr-ragu, dan lamban bergerak). Karena, keberadaan mereka hanya akan menularkan dan menyebarkan aroma kelemahan, kerapuhan, kepasrahan, dan kekalahan di tengah-tengah barisan.
Dakwah butuh pejuang-pejuang tangguh untuk mengusungnya.
Dakwah butuh orang-orang cerdas untuk memulainya, orang-orang ikhlas untuk memperjuangkannya, orang-orang pemberani untuk memenangkannya!
Antumlah orang-orang terpilih yang mengukir sejarah itu!
Langganan:
Komentar (Atom)



